Sumbawanews.com,- Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pengerjaan tugas kuliah semakin marak, memicu kekhawatiran para dosen bahwa mahasiswa berisiko kehilangan kemampuan berpikir kritis. Fenomena ini terungkap dalam laporan Futurism yang mengutip keluhan dosen dari berbagai perguruan tinggi, di mana tugas mahasiswa sering terlihat rapi namun penulisnya kesulitan menjelaskan atau mempertahankan argumen saat diskusi kelas. Profesor filsafat dari University of Central Arkansas, Kevin Gary, menegaskan bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan bagian dari proses membentuk pola pikir—sehingga setiap langkah intelektual yang diserahkan ke teknologi berarti melepaskan sebagian kebebasan untuk memahami. AI kini tidak hanya digunakan untuk memperbaiki tata bahasa, tetapi juga untuk menyusun kerangka esai, merangkum bahan bacaan, hingga membuat tulisan utuh, yang berpotensi membuat mahasiswa melewati tahap penting dalam pembelajaran akademik.
Meski demikian, laporan tersebut tidak menyimpulkan AI sebagai penyebab utama penurunan kemampuan berpikir. Sejumlah penelitian menunjukkan AI tetap bermanfaat jika berperan sebagai pendamping, bukan pengganti proses berpikir mandiri. Tantangan utama justru terletak pada batasan penggunaan teknologi: mahasiswa perlu mampu memahami, mengolah, dan mengembangkan informasi yang diberikan AI, bukan hanya menerima hasil akhirnya. Perguruan tinggi pun didorong untuk menyusun aturan jelas tentang penggunaan AI dalam kegiatan akademik—bukan untuk melarangnya, tetapi memastikan teknologi tetap menjadi alat pendukung, bukan pengganti kemampuan dasar seperti analisis, menulis, dan pemecahan masalah.















