Sumbawanews.com,- Di tengah meningkatnya kecurigaan publik terhadap kehadiran kecerdasan buatan, perusahaan teknologi berlomba-lomba menampilkan diri sebagai lebih manusiawi—bahkan melalui hal yang paling kecil: jenis huruf yang mereka gunakan. Di tengah tren desain yang selama dua dekade didominasi oleh sans-serif bersih dan dingin, kini serif—huruf dengan garis kecil di ujungnya—tiba-tiba menjadi simbol kepercayaan, otoritas, dan bahkan ketulusan.
Keya Vadgama, desainer dan praktisi tipografi dari San Francisco, menyebut fenomena ini sebagai “renaissance serif.” Menurutnya, pilihan ini bukan sekadar soal estetika, tapi strategi psikologis: AI, yang secara inheren dingin dan tanpa emosi, mencoba menutupi kekurangannya dengan memakai font yang selama ratusan tahun dikaitkan dengan buku, koran, dan karya ilmiah. “Mereka bilang, ‘Kami AI, tapi manusia benar-benar membuat produk ini. Kami janji,’” ujarnya.
Perusahaan seperti Anthropic, Perplexity, dan Manus telah mengadopsi serif dalam antarmuka dan branding mereka. Perplexity, misalnya, secara terbuka menyatakan: “Mengapa kami tidak menggunakan desain manusiawi? Perplexity untuk manusia.” Di sisi lain, Times New Roman—font yang dirancang pada 1930-an untuk surat kabar The Times di Inggris dan menjadi standar cetak global—kembali muncul, bahkan di kantor pemerintah. Kementerian Luar Negeri AS baru-baru ini mengganti Calibri dengan Times New Roman setelah Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut font sans-serif sebagai “terlalu informal,” dan mengaitkannya dengan agenda kebijakan era Biden.
Ali S. Qadeer, ketua desain grafis di Ontario College of Art and Design, melihat ini sebagai upaya “melembutkan” citra teknologi. “Desain yang steril selama dua dekade kini punya konotasi negatif,” katanya. “Serif mengingatkan kita pada halaman buku, pada keaslian, pada kepercayaan.”
Namun, tidak semua merespons dengan antusiasme. Di media sosial, banyak yang menyebut tren ini sebagai “tasteslop”—desain yang berusaha terlihat mewah tapi justru terasa datar dan klise. “Jika separuh internet memakai font ‘unik’ tanpa memahami dasar desain, maka font itu akan jadi simbol sampah,” tulis salah satu pengguna X. Bahkan, beberapa menyebutnya “sangat jelek.”
Yitong Zhang, pendiri desainer, membandingkan tren ini dengan remaja yang mencoba-coba font Iron Maiden atau South Park di komputer lama. “Ini bukan kecurangan, tapi proses pematangan,” katanya. Ia menyebut gaya ini sebagai “premium mediocre”—mewah di permukaan, tapi biasa saja di intinya. Seperti anggur termahal di Olive Garden: terlihat elegan, tapi tetap bukan anggur berkualitas tinggi.
Claude, salah satu model AI terkemuka, bahkan secara terbuka mengakui tren ini. Saat ditanya mengapa memilih serif, ia menjawab bahwa font tersebut menciptakan kesan “serius secara literer,” sekaligus mengakui bahwa banyak desain AI saling meniru—sebuah “herd mentality” digital. “Garis bersih, animasi halus, tipografi percaya diri—semuanya mengirim pesan: ‘Sistem ini tahu apa yang dilakukannya.’ Padahal, estetika ini justru mengaburkan pemahaman sejati tentang apa itu AI,” ujarnya.
Vadgama menanggapi dengan sinis: “Anda bisa pakai Comic Sans, tapi tetap saja Anda AI. Tidak ada font yang bisa mengubah fakta itu.”
Di balik setiap serif yang dipilih, ada pertanyaan yang lebih dalam: Apakah kita sedang mempercantik kebohongan? Atau hanya mencoba menemukan cara agar teknologi yang tak punya jiwa bisa diterima oleh manusia yang haus akan kehangatan?
Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh algoritma yang berbicara, menulis, dan bahkan merancang—mungkin yang paling mengejutkan bukanlah bahwa AI meniru manusia. Tapi bahwa kita, manusia, bersedia percaya pada tiruan itu—bahkan jika itu hanya sebatas garis kecil di ujung huruf.

















