Home Berita Tasyakur bin Ni’mah Penobatan Sultan Sumbawa, Bupati Soroti Tantangan Kebudayaan

Tasyakur bin Ni’mah Penobatan Sultan Sumbawa, Bupati Soroti Tantangan Kebudayaan

Sumbawa Besar, sumbawanews.com – Tasyakur bin Ni’mah memperingati 15 tahun penobatan Sultan Sumbawa XVIII sekaligus Malikelis ke-85 tahun yang digelar di Bala’ Kuning Sumbawa, Minggu malam (5/4/2026), berlangsung khidmat dan sarat makna. Momentum ini tidak hanya menjadi penanda perjalanan sejarah sejak penobatan pada 5 April 2011, tetapi juga ruang refleksi untuk meneguhkan kembali nilai-nilai dasar Tau Samawa di tengah dinamika zaman.

Baca Juga: Naik Sepeda ke Kantor, Bupati Ipuk Ajak ASN Banyuwangi Hemat BBM

Dalam orasi kebudayaannya, Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP menegaskan bahwa peringatan ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni, tetapi harus dimaknai sebagai titik temu antara sejarah, nilai, dan tanggung jawab. la mengingatkan bahwa penobatan Sultan Sumbawa sejak awal bukan untuk menghidupkan feodalisme, melainkan sebagai upaya memperkokoh marwah Tau Samawa serta memastikan nilai-nilai luhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Bupati menempatkan falsafah balong ai kayu, mole pade antap, telas kebo jaran sebagai inti dari cara pandang Tau Samawa dalam menjaga keseimbangan kehidupan. la menjelaskan bahwa balong ai kayu mengandung kesadaran bahwa air dan hutan merupakan penyangga utama kehidupan yang harus dijaga sebagai amanah. Mole pade antap mengajarkan sikap kehati-hatian dalam mengelola sumber daya, tidak berlebihan dan tetap dalam batas kesadaran moral. Sementara telas kebo jaran menegaskan bahwa kesejahteraan manusia tidak bisa dipisahkan dari keseimbangan makhluk hidup lain dan lingkungan yang menopangnya.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak lahir dari kesepakatan semata, tetapi berakar pada kesadaran ketuhanan yang menjadi fondasi kehidupan Tau Samawa. Dalam hal ini, prinsip taket ko nene, kangila boat lenge-takwa kepada Tuhan dan malu berbuat salah-menjadi landasan moral yang mengikat hubungan manusia dengan alam dan sesamanya.

la juga menyoroti tantangan kebudayaan saat ini, di mana nilai sering kali terpisah dari praktik. Dalam sistem modern yang menekankan angka, indikator, dan prosedur, nilai kerap hanya menjadi slogan tanpa ruh. Karena itu, Bupati menegaskan pentingnya menghadirkan nilai dalam kebijakan dan praktik nyata. Falsafah balong ai kayu harus tercermin dalam tata ruang dan perlindungan lingkungan, mole pade antap dalam pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dan telas kebo jaran dalam pola pembangunan yang menjaga keseimbangan antara manusia, ternak, dan ekosistem. (Using)

 

Previous articleAntisipasi Konflik Sosial, Polres Sumbawa Gelar Apel Pasukan Aman Nusa I Rinjani – 2026
Next articleWabup Tegaskan Komitmen Berantas TPS Liar
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.