Sumbawanews.com,- Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dikabarkan sedang mempersiapkan rencana besar untuk mengubah sistem kepemimpinan FIFA dengan menerapkan rotasi kursi presiden di antara enam konfederasi benua. Gagasan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino, menyusul polemik rencana penjualan saham Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan. UEFA, bersama AFC dan CONCACAF, telah mengeluarkan surat resmi yang menyoroti kepemimpinan Infantino, sementara negara-negara anggotanya terlihat bersatu dalam menentang kebijakan-kebijakan kontroversialnya. Rencana rotasi ini, yang dibahas dalam pertemuan di Salzburg, Austria, bertujuan mencegah konsentrasi kekuasaan di satu wilayah dan membagi jabatan presiden FIFA secara bergiliran antara UEFA, AFC, CONCACAF, CONMEBOL, CAF, dan OFC.
Meski tekanan terhadap Infantino kian kuat, posisinya belum tergoyahkan sepenuhnya. Ia masih mendapat dukungan dari sejumlah federasi, termasuk PSSI dan beberapa asosiasi sepak bola di kawasan Arab. Pemilihan presiden FIFA berikutnya dijadwalkan pada Maret 2027, dan Infantino tetap berpeluang mencalonkan diri kembali. Namun, dengan munculnya wacana rotasi kepemimpinan, kongres FIFA 2027 berpotensi menjadi ajang pertarungan politik paling sengit dalam sejarah organisasi sepak bola dunia. Selain perubahan figur, UEFA juga dikabarkan ingin memperkuat struktur administratif di sekitar kepresidenan untuk menciptakan keseimbangan kekuasaan yang lebih adil di antara seluruh konfederasi.















