Home Berita Olah Raga Swiss vs Argentina: Duel Pengingat Trauma 2014 di Piala Dunia 2026

Swiss vs Argentina: Duel Pengingat Trauma 2014 di Piala Dunia 2026

Sumbawanews.com,- Pertandingan antara Timnas Swiss dan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026 menjadi momen penuh kenangan kelam bagi para pemain yang pernah mengalami kekalahan memilukan di Brasilia pada 2014. Keduanya kembali bertemu di panggung terbesar sepak bola dunia, dengan sisa-sisa luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Hanya dua pemain Swiss yang tersisa dari laga legenda itu: Granit Xhaka dan Ricardo Rodriguez. Sementara di sisi Argentina, Lionel Messi—yang kala itu menjadi kapten—masih memegang ban kapten, menjadi simbol ketahanan dan keabadian di kancah internasional.

Kekalahan 0-1 Swiss atas Argentina di perempat final Piala Dunia 2014 masih membekas, terutama bagi Blerim Dzemaili. Tendangan sundulan kepala Dzemaili di menit ke-120 membentur mistar gawang, peluang emas yang gagal dimanfaatkan. Bola yang memantul ke depannya, dalam jarak hanya satu meter, tak mampu diteruskan dengan tepat. Kegagalan itu tak hanya menghancurkan mimpi Swiss melangkah lebih jauh, tetapi juga menjadi akhir karier pelatih Ottmar Hitzfeld. Dzemaili kini telah pensiun, meninggalkan bayangan itu sebagai kenangan paling pahit dalam karier sepak bolanya.

Kini, pertemuan ulang di Piala Dunia 2026 bukan sekadar laga teknis, tapi juga simbolik. Argentina yang kembali menunjukkan ketangguhan setelah menaklukkan Mesir dalam drama 6 gol injury time, menghadapi Swiss yang bermain dengan semangat penuh determinasi. Meski tak ada lagi Dzemaili di lapangan, namun setiap umpan, setiap tendangan, dan setiap peluang yang dilewatkan akan diingat—bukan hanya oleh para pemain, tapi juga oleh para penggemar yang masih menyimpan ingatan akan malam yang berlalu di Brasilia.

Messi, yang kini menjadi satu-satunya sisa dari generasi 2014, menjadi pusat perhatian. Ia bukan hanya pemain, tapi simbol ketahanan. Sementara Xhaka dan Rodriguez, yang masih berdiri di lapangan, membawa beban sejarah—bukan untuk mengulang kesalahan, tapi untuk membuktikan bahwa waktu bisa menyembuhkan, sekaligus menciptakan legenda baru.

Previous articleTimnas Kolombia Tersingkir Meski Pertahanan Terbaik di Piala Dunia 2026
Next articleBoeing 737 Kargo Hilang Kontak di Pakistan Setelah Menukik Tajam