Sumbawanews.com,- Di tengah hamparan pegunungan Papua, sebuah pusat latihan bernama Papua Athletics Center (PAC) berdiri sebagai bukti nyata bahwa potensi atletik nasional tak lagi terbatas di Jawa. Didirikan pada 2022 melalui kemitraan strategis antara PB PASI dan PT Freeport Indonesia, PAC menjadi rumah bagi 19 atlet muda Papua yang kini bersaing di level nasional dan internasional, dengan fasilitas lengkap di Mimika Sport Complex (MSC), Papua Tengah. Di sini, atlet tidak hanya dilatih fisik, tapi juga diberi nutrisi terukur, psikologi olahraga, hingga kesempatan bertanding berulang untuk membangun kepercayaan diri.
Pelatih PAC, Prasetyo Utomo, menekankan bahwa keberhasilan program ini tak hanya pada rekor, tapi pada transformasi mental. “Kami ada ahli gizi yang atur porsi makan mereka, untuk capai target prestasi,” ujarnya. Sementara Engel Birthwiai menambahkan, atlet yang belum punya jam terbang sering minder jika dipaksa tampil terlalu dini. “Kalau kita ajak bertanding sebelum mereka siap, mereka down duluan,” katanya. Ronald Letsoin, pelatih sprint dan long sprint, membandingkan atletik dengan sepak bola: “Minder itu karena belum punya pengalaman. Tapi kalau sudah sering bertanding, mentalnya seperti pelatnas.”
Prestasi pun mulai mengalir. Kresensia Mobok Ndiken memecahkan Rekor Nasional Lempar Lembing U-20 Putri dengan lemparan 44,72 meter di Philippine Athletics Championship. Lina Hisage mencatat rekor nasional Tolak Peluru U18 Putri dengan jarak 14,72 meter di ASEAN Schools Games di Brunei. Di kelas putra, Silfanus Ndiken mencatat rekor nasional Lempar Lembing 71,03 meter di LPS Kejurnas Atletik dan Indonesia U1 Open Championships, sekaligus mewakili Indonesia di Asian Games 2026.
Atlet seperti Benediktus Tsolme, yang bergabung pada 2024, mengaku perubahan drastis terjadi dalam dirinya. “Dulu saya takut lihat lawan, ragu. Sekarang anggap biasa saja, tidak ada takut-takut,” katanya. Kresensia, yang lemparannya melonjak dari 30 meter menjadi 44,72 meter, tak hanya fokus pada olahraga. “Saya ingin kuliah jurusan keolahragaan tahun depan,” ujarnya. Di PAC, disiplin, konsistensi waktu, dan asupan gizi yang diatur ahli menjadi fondasi tak hanya bagi rekor, tapi juga masa depan.
Dengan sistem regenerasi yang berkelanjutan, PAC membuktikan bahwa Papua bukan lagi daerah pinggiran olahraga nasional—tapi pusat lahirnya juara yang kini diperhitungkan di kancah Asia.















