Sumbawanews.com,- Manchester United mencatat kerugian bersih 43 juta poundsterling (sekitar Rp1,03 triliun) untuk tahun finansial yang berakhir 30 Juni 2026, menjadikan ini kerugian tahunan ketujuh berturut-turut. Beban tambahan sebesar 8,2 juta poundsterling (Rp196 miliar) muncul dari biaya terkait kepergian pelatih Ruben Amorim dan proses restrukturisasi internal. Meski klub berada dalam batas aturan Profitability and Sustainability Regulations (PSR) Premier League yang membatasi kerugian hingga 105 juta poundsterling dalam tiga tahun, tekanan finansial semakin berat menyusul kinerja buruk di awal musim 2026/27, di mana mereka hanya mengumpulkan lima poin dari lima laga dan berada di posisi ke-12 klasemen.
Kerugian tahunan ini meningkat dari 33 juta poundsterling pada periode sebelumnya, namun jauh lebih ringan dibandingkan kerugian 113,2 juta poundsterling pada 2024 atau 115,5 juta poundsterling pada 2022. Di tengah krisis, CEO Omar Berrada menegaskan komitmen klub untuk menjaga keberlanjutan keuangan melalui pendekatan disiplin. Langkah penghematan yang digaungkan pemegang saham minoritas Jim Ratcliffe—termasuk pemangkasan tenaga kerja dan kenaikan harga tiket—terus berjalan seiring upaya menyesuaikan struktur biaya.
Namun, ada cahaya di ujung terowongan. Manchester United memproyeksikan pendapatan tahun finansial 2027 akan mencapai rekor baru, antara 740 juta hingga 760 juta poundsterling (Rp17,67 triliun–Rp18,15 triliun), naik dari 677,6 juta poundsterling pada 2026. Peningkatan ini didorong oleh keberhasilan finis di posisi tiga Premier League musim lalu dan kualifikasi ke Liga Champions di bawah pelatih Michael Carrick. Kompetisi Eropa diharapkan menjadi sumber pendapatan utama, tetapi performa buruk di awal musim ini mengancam stabilitas finansial jangka pendek.
Sejak Alex Ferguson meninggalkan kursi pelatih pada 2013, Manchester United belum mampu kembali meraih dominasi seperti masa kejayaannya yang membawa 13 gelar Premier League. Kini, klub berada di persimpangan: harus memperbaiki hasil di lapangan sekaligus mempertahankan kesehatan finansial. Ketidakstabilan di bangku pelatih menjadi sorotan, dengan Antonio Conte masuk dalam radar manajemen sebagai calon pengganti Carrick, menyusul kegagalan awal musim ini. Dengan tekanan dari suporter, investor, dan regulasi, Manchester United memasuki fase paling kritis dalam dekade terakhir.















