Sumbawanews.com,- Manchester United telah memperkuat lini tengah pada jendela transfer musim panas 2026 dengan mendatangkan Andrey Santos, Youri Tielemans, dan Carlos Baleba, menyusul fokus pada lini depan pada musim sebelumnya yang membawa Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, dan Benjamin Sesko. Mantan kapten klub, Gary Neville, mengungkapkan kekhawatiran bahwa pertahanan tim terlalu lama diabaikan, meski sumber daya keuangan sudah habis untuk gelandang. Ia menekankan perlunya segera merekrut satu bek tengah dan satu bek sayap, mengingat kondisi darurat di belakang saat Dalot dan Shaw keluar dari laga melawan Ipswich, memaksa Yoro dan Mazraoui bertahan di posisi yang bukan keahlian utama mereka. Neville menyesalkan strategi bertahap yang menunda penguatan pertahanan hingga musim depan, dan meminta manajemen mencari cara untuk mempercepat transfer bek sekarang agar bisa berhemat di masa mendatang.
Neville, yang pernah menjadi tulang punggung pertahanan MU di era kejayaan, menyoroti bahwa tim saat ini terlihat rapuh di sisi belakang, terutama setelah kegagalan merekrut Lewis Hall dari Newcastle United karena harga yang dipatok sekitar 60–70 juta poundsterling. Ia menilai, tanpa perbaikan nyata di lini belakang, upaya membangun ulang lini serang dan tengah akan sia-sia jika pertahanan tetap menjadi titik lemah yang bisa dihancurkan lawan. “Lihat kan di akhir pertandingan, ketika Dalot dan Shaw keluar, ada Yoro main sebagai bek kanan dan Mazraoui jadi bek kiri. Itu sama sekali tidak ideal,” ujarnya, menggarisbawahi ketidaksesuaian posisi yang berisiko membahayakan hasil pertandingan.
Meski manajemen MU tampak fokus pada pembangunan berlapis, Neville meminta keputusan strategis yang lebih seimbang. Ia tidak menolak keberhasilan perekrutan gelandang, tetapi menegaskan bahwa pertahanan bukanlah aset yang bisa ditunda. “Bisakah kalian entah bagaimana caranya mencoba mempercepat uang itu ke jendela transfer saat ini dan berhemat musim depan?” tanyanya, menekankan urgensi tindakan segera. Dengan lini tengah yang kini sudah diperbarui, tekanan pun bergeser ke manajemen untuk membuktikan bahwa rencana pembangunan tim tidak hanya berhenti di lini depan dan tengah — tetapi juga menyentuh fondasi utama: pertahanan yang kokoh.















