Sumbawanews.com,- Pertandingan yang seharusnya menjadi pintu gerbang menuju 32 besar berubah menjadi malapetaka bagi Timnas Korea Selatan. Di Estadio Monterrey, Kamis (25/6/2026) pagi WIB, Taegeuk Warriors tumbang 0-1 dari Afrika Selatan dalam laga penentuan Grup A Piala Dunia 2026. Gol tunggal Thapelo Maseko di menit ke-63 tak hanya menghancurkan harapan lolos langsung, tapi juga memicu gelombang kemarahan di tanah air.
Meski menguasai bola hingga 62 persen, Korea Selatan gagal menciptakan peluang jelas. Serangan mereka monoton, tanpa kecepatan maupun kejutan, sementara Bafana Bafana—meski minim penguasaan—memanfaatkan setiap kesalahan bertahan dengan presisi mematikan. Setelah gol Maseko, pertahanan Afrika Selatan berubah menjadi benteng tak tertembus, menahan habis-habisan serangan demi serangan dari tim asuhan Hong Myung-bo.
Kekalahan ini bukan sekadar kegagalan teknis, tapi kegagalan strategis. Son Heung-min, sang kapten dan bintang sejati, baru dimasukkan di menit ke-47 babak kedua—terlalu lambat, terlalu sedikit. Keputusan ini langsung menjadi bahan kritik tajam media lokal. *Star News* menyebutnya sebagai “bencana di Monterrey,” sementara *Maeil Business* menyesali betapa tim yang seharusnya cukup dengan hasil imbang justru kehilangan kendali atas nasib sendiri.
Kini, harapan Korea Selatan bergantung pada hasil laga-laga lain. Dengan tiga poin, mereka finis di peringkat tiga Grup A dan bersaing ketat dalam perburuan empat dari delapan tiket terbaik tim peringkat tiga. Saat ini, mereka berada di posisi keempat dalam mini-klasemen peringkat tiga, tertinggal dari Aljazair, Paraguay, dan Skotlandia—semua sama-sama mengoleksi tiga poin—serta Cape Verde yang baru dua poin.
Pertandingan melawan Meksiko dan Afrika Selatan yang berakhir dengan hasil berbeda justru menjadi ironi terbesar: Meksiko tampil sempurna dengan tiga kemenangan, sementara Korea Selatan—yang dianggap sebagai salah satu favorit Asia—harus bergantung pada kebaikan hati tim lain. Di ruang redaksi, di kafe-kafe Seoul, hingga di stasiun kereta bawah tanah, warga Korea menatap layar dengan wajah kosong. Bukan hanya karena kekalahan, tapi karena kehilangan kepercayaan pada tim yang dulu pernah membuat dunia terkesima di Piala Dunia 2002.
Kini, pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka lolos?” tapi “apakah mereka masih layak disebut tim besar?”















