Sumbawanews.com,- Amri Syahnawi dan Nita Violina Marwah gagal melangkah ke final ganda campuran Kejuaraan Dunia BWF 2026 setelah kalah di semifinal, memastikan Indonesia tak memiliki wakil sama sekali di babak puncak turnamen. Hasil ini menempatkan pasangan Indonesia itu pada posisi ketiga, meraih medali perunggu—pencapaian pertama di nomor ganda campuran sejak Tantowi Ahmad/Lilyana Natsir meraihnya pada 2017. Ini adalah kali kedua berturut-turut Indonesia tidak mengirimkan satupun wakil ke final Kejuaraan Dunia BWF, setelah pada 2025 hanya Putri Kusuma Wardani yang mampu tembus semifinal. Kondisi ini menjadi yang pertama dalam 15 tahun terakhir, menyamai periode 2010–2011, ketika Indonesia juga gagal mencapai final dua kali beruntun.
Kegagalan ini menjadi sentilan tajam bagi PBSI, terutama setelah sebelumnya gelar ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri sempat menyelamatkan kebanggaan nasional di Kejuaraan Dunia BWF dan turnamen China dan Japan Open. Namun, tanpa ada wakil di final di tahun ini, tekanan semakin membesar menjelang Asian Games 2026 di Jepang, yang akan berlangsung dari 19 September hingga 1 Oktober mendatang. Pada Asian Games 2022 di Hangzhou, Indonesia bahkan tak meraih satu pun medali—sebuah kegagalan bersejarah yang memutus tradisi emas bulutangkis yang terakhir kali diraih pada Asian Games 2018 lewat Jonatan Christie di tunggal putra, serta Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya di ganda putra.
Jika PBSI tidak segera merespons tren penurunan performa ini dengan strategi jangka pendek yang tegas, kemungkinan besar Indonesia akan kembali mengalami puasa medali di Asian Games 2026—mengulang kegagalan 2022 dan memperdalam krisis kepercayaan terhadap arah pembinaan bulutangkis nasional.















