Sumbawanews.com,- Mikel Arteta tetap mempercayai Kai Havertz sebagai penyerang utama Arsenal meski timnya tumbang 0-3 dari Brighton di Amex Stadium pada Sabtu, 19 September 2026. Kekalahan itu mengakhiri rekor sempurna empat kemenangan beruntun Arsenal di Liga Inggris 2026/2027, sekaligus memicu pertanyaan atas keputusan pelatih asal Spanyol itu yang terus memilih Havertz di depan, meski Viktor Gyokeres hadir dengan karakter penyerang tengah yang lebih tradisional.
Havertz menjadi starter di semua empat laga awal musim ini dan mencetak dua gol. Namun, dalam kekalahan melawan Brighton, ia gagal memanfaatkan peluang penting, sementara Gyokeres yang masuk pada menit ke-73 hanya menyentuh bola enam kali dalam waktu lebih dari 15 menit. Meski begitu, Arteta tidak mengubah keputusannya karena melihat Havertz bukan sekadar pencetak gol, tapi pemain yang memperdalam struktur permainan Arsenal. Ia sering turun ke lini tengah, membuka ruang untuk Bukayo Saka dan Martin Ødegaard, serta menjadi penghubung antara pertahanan dan serangan dengan kecerdasan taktis yang diakui Arteta sebagai “kualitas terbesarnya.”
Gyokeres, yang mencetak 21 gol dalam 55 penampilan sepanjang musim pertamanya bersama Arsenal, justru lebih identik dengan penyerang klasik: kuat secara fisik, mengancam di kotak penalti, dan mampu menyelesaikan serangan langsung. Namun, peran Havertz yang lebih fleksibel membuat Arteta tetap mengandalkannya sebagai tulang punggung lini depan, terutama dalam sistem permainan yang mengutamakan kontrol dan transisi cepat.
Kegagalan Gyokeres untuk memengaruhi jalannya laga setelah masuk sebagai pengganti di Brighton memperkuat argumen bahwa masalah Arsenal bukan pada pilihan penyerang, tapi pada kurangnya suplai bola ke area final. Kekalahan itu bukanlah titik balik yang langsung menggusur Havertz, tapi menjadi bahan evaluasi: apakah dalam situasi tertentu, Arsenal perlu lebih agresif dengan gaya permainan yang lebih langsung, atau apakah Havertz perlu meningkatkan efisiensi di depan gawang.
Arteta masih percaya bahwa kecerdasan dan pergerakan Havertz membuat seluruh lini depan Arsenal berjalan lebih dinamis — bahkan ketika statistik gol tidak mendukung. Sementara itu, Gyokeres tetap menjadi pilihan strategis yang menanti giliran, bukan pengganti.















