Sumbawanews.com,- Program FIFA Forward Enterprise (FFE), yang direncanakan sebagai badan komersial untuk mengelola hak penyiaran, sponsor, dan lisensi kompetisi FIFA termasuk Piala Dunia, akhirnya dibatalkan setelah mendapat penolakan tegas dari sejumlah konfederasi sepak bola dunia. Rencana awal menyebut FFE akan dimiliki 80 persen oleh FIFA, dengan sisa 20 persen saham ditawarkan kepada pihak swasta—langkah yang dianggap sebagai “penjualan” kompetisi paling bergengsi di dunia.
FIFA mengirim surat konsultasi kepada 211 asosiasi sepak bola anggota pada 28 Juli 2026, dengan tenggat jawaban hingga 19 September 2026. Namun, sebelum hasil pemungutan suara ditetapkan, Presiden FIFA Gianni Infantino mengumumkan pembatalan proposal tersebut. Penolakan datang dari konfederasi besar seperti UEFA, AFC, dan CONCACAF, yang menilai rencana ini membahayakan integritas turnamen internasional.
Meski FFE menawarkan peningkatan pendapatan bagi asosiasi anggota—dari US$8 juta (Rp144,4 miliar) menjadi US$20 juta (Rp361,2 miliar) per periode 2027–2030—kekhawatiran akan komersialisasi berlebihan dan dominasi kepentingan swasta membuat rencana ini gagal mendapat dukungan luas. Implementasi FFE yang semula dijadwalkan mulai 1 Oktober 2027 kini ditunda tanpa kejelasan waktu pengganti.















