Sumbawanews.com,- Brasil membuka laga grup C Piala Dunia 2026 dengan dominasi mutlak dan dua gol spektakuler dari Vinicius Jr., menghantam Skotlandia 2-0 di babak pertama di Stadion Celtic Park, Glasgow. Kedua gol sang penyerang andalan Tim Samba lahir dari kecerdikan teknis dan kesalahan mematikan dari lini belakang Skotlandia.
Gol pertama datang di menit ketujuh. Setelah umpan pendek Scott McKenna terlalu lambat dan mudah dibaca oleh kiper Brasil Alisson, bola memantul ke arah Vinicius Jr. yang berlari tanpa henti. Dengan kecepatan luar biasa, ia mengejar bola sebelum Angus Gunn bisa keluar dari gawang, lalu mengecoh penjaga gawang Skotlandia itu dengan gerakan halus sebelum menceploskan bola ke gawang kosong.
Kesalahan bertahan kembali terjadi di menit ke-25. Jack Hendry kehilangan kendali bola di area pertahanan, membiarkan Vinicius merebutnya dan berhadapan satu lawan satu dengan Gunn. Namun, gol yang tampaknya sudah pasti dibatalkan oleh wasit Cesar Palazuelos setelah VAR mengonfirmasi adanya jegalan ringan terhadap kaki Hendry saat merebut bola. Skor tetap 1-0.
Meski sempat tertahan, Brasil tak kehilangan momentum. Di menit ke-45+4, tepat di penghujung babak pertama, Vinicius Jr. kembali menjadi pahlawan. Umpan silang dari Bruno Guimaraes mengarah tepat ke kepalanya di depan gawang, dan sundulan kerasnya tak bisa dibendung oleh Gunn. Gol kedua ini menutup babak pertama dengan skor 2-0 untuk Brasil.
Skotlandia, yang berusaha menekan lewat serangan sayap dan umpan-umpan panjang dari McTominay dan McGinn, gagal menciptakan ancaman berarti. Lini belakang mereka terus kewalahan menghadapi kecepatan dan dribbling Vinicius, sementara serangan balik Brasil selalu mengancam. Matheus Cunha nyaris menambah gol di menit ke-45, namun tendangannya diblok habis-habisan oleh bek Skotlandia di garis gawang.
Susunan pemain Brasil yang mengandalkan trio depan Vinicius Jr., Matheus Cunha, dan Rayan—dengan pengaturan permainan klasik Casemiro dan Bruno Guimaraes di tengah—terbukti sangat efektif. Sementara Skotlandia, dengan formasi 4-2-3-1 yang terlalu kaku, kehilangan keseimbangan di tengah lapangan dan tak mampu menahan tekanan berkelanjutan dari tim juara dunia lima kali itu.
Dengan keunggulan ini, Brasil memperkuat posisinya sebagai salah satu favorit juara, sementara Skotlandia harus segera bangkit jika ingin tetap bertahan di turnamen.















