Sumbawanews.com,- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan, rencana memanfaatkan kantin sekolah sebagai dapur alternatif program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum ditetapkan secara final. Hingga kini, pemerintah bersama Badan Gizi Nasional (BGN) terus mematangkan skenario operasional agar program ini tepat sasaran dan efisien di lapangan.
Mu’ti menegaskan, setiap keputusan terkait pelaksanaan MBG, termasuk penggunaan kantin sekolah, harus melewati pengkajian mendalam sebelum diterapkan. Ia menambahkan, satu hal yang telah disepakati dalam rapat koordinasi tingkat menteri adalah perubahan kriteria penerima MBG—yang kini hanya akan diberikan kepada siswa yang benar-benar membutuhkan bantuan pemenuhan gizi, bukan secara serentak untuk seluruh pelajar.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kata Mu’ti, berperan sebagai pihak penerima manfaat utama, sehingga seluruh mekanisme teknis tetap mengacu pada arahan BGN sebagai pusat penggerak program. Ia menekankan, MBG tidak semata soal penyediaan makanan, tapi juga bagian dari pendidikan karakter, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun generasi sehat dan bebas stunting.
Sebelumnya, Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menyebut opsi pemanfaatan kantin sekolah memang diuji sebagai solusi efisien, khususnya di daerah terpencil seperti Lombok Barat atau Raja Ampat, di mana jumlah siswa sedikit dan pendirian dapur baru tidak praktis. Alternatif lain yang dipertimbangkan termasuk pemanfaatan dapur umum yang dibangun melalui program CSR perusahaan, seperti milik PT Pertamina.















