Home Berita Nasional Putin Tolak Bertemu Zelensky, Sebut Surat Terbuka Tak Tulus

Putin Tolak Bertemu Zelensky, Sebut Surat Terbuka Tak Tulus

Sumbawanews.com,- Presiden Rusia Vladimir Putin menolak tawaran Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk bertemu langsung, menyatakan bahwa surat terbuka yang dikirimkan pekan lalu bukanlah upaya serius untuk meredakan perang, melainkan taktik politik yang kasar dan manipulatif. Pernyataan itu disampaikan Putin dalam forum ekonomi di St. Petersburg, Jumat (5/6/2026), sehari setelah Zelensky mengajukan permintaan pertemuan tatap muka sebagai langkah konkret untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.

“Surat itu berisi beberapa pernyataan yang agak kasar. Apakah itu cara untuk menciptakan kondisi pertemuan, atau justru untuk menghindarinya? Saya pikir itu yang kedua,” ujar Putin, seperti dilansir Reuters. Ia menekankan bahwa saat ini tidak ada alasan strategis atau politik yang memadai bagi dirinya untuk duduk berhadapan dengan pemimpin Ukraina itu.

Zelensky, dalam surat terbukanya yang tersebar luas di media internasional, menawarkan pembicaraan langsung tanpa syarat awal, menekankan bahwa perang tidak bisa berakhir tanpa dialog tingkat tertinggi. Namun, Putin menilai ajakan itu lebih sebagai upaya publisitas untuk membangun simpati global dan memicu ketidakpuasan di dalam Rusia, daripada upaya damai yang genuin.

Pernyataan Putin ini sejalan dengan sikap keras Moskow yang tetap menolak mengakui legitimasi pemerintahan Zelensky sebagai mitra negosiasi yang sah, terutama dalam konteks klaim wilayah yang telah dianeksasi Rusia. Meski demikian, Putin tidak menutup pintu sepenuhnya terhadap perdamaian. Ia menyebut bahwa proposal dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump—yang menawarkan mediasi netral—bisa menjadi jalan keluar, asalkan Ukraina bersedia berkompromi pada poin-poin kunci seperti status kawasan yang dikuasai Rusia.

“Kami siap berunding, tapi bukan atas dasar ultimatum atau tekanan moral,” tegas Putin. Ia menegaskan bahwa Rusia tidak akan menarik pasukannya dari wilayah yang dianggapnya sebagai bagian dari “realitas baru” di Ukraina, termasuk Donbas dan Krimea.

Sementara itu, kelompok nasionalis Rusia di media sosial dan parlemen telah merespons surat Zelensky dengan kecaman tajam, menyebutnya sebagai “propaganda psikologis” yang dirancang untuk melemahkan moral dalam negeri. Di sisi lain, Kyiv tetap bersikeras bahwa solusi politik hanya mungkin jika ada keberanian untuk duduk bersama—tanpa syarat sebelumnya.

Dalam perkembangan militer, pasukan Rusia dilaporkan terus melancarkan serangan rudal dan drone di berbagai wilayah Ukraina, termasuk serangan terhadap infrastruktur kritis di barat laut. Sementara itu, laporan dari Rumania menyebutkan adanya insiden drone laut Ukraina yang meledak di pelabuhan Laut Hitam, menambah ketegangan di kawasan yang sebelumnya dianggap aman dari konflik.

Dengan penolakan Putin terhadap pertemuan empat mata, prospek perdamaian jangka pendek tampak semakin kabur. Kedua belah pihak kini saling menyalahkan: Kyiv menuduh Moskow menghindari tanggung jawab moral, sementara Kremlin menuduh Ukraina menolak realitas di lapangan. Di tengah ketegangan ini, dunia menunggu apakah inisiatif mediasi dari pihak ketiga—terutama AS—akan mampu memecah kebuntuan yang telah berlangsung terlalu lama.

Previous articleTarif Transjabodetabek Akan Disesuaikan, Subsidi Menjadi Tekanan Utama
Next articlePulau Sampah di Muara Angke, Kiriman dari Hulu
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.