Sumbawanews.com,- Massa Aliansi Perempuan Indonesia bergerak menuju Istana Negara pada Kamis pagi, 18 Juni 2026, dengan membawa peralatan dapur—wajan, sendok kayu, dan panci—sebagai simbol kehidupan sehari-hari yang kian terbebani. Di bawah terik matahari Jakarta, ratusan perempuan berpakaian daster dan warna merah muda berbaris di trotoar Dukuh Atas, menuntut pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), menurunkan harga BBM, dan menciptakan lapangan kerja yang layak.
Aksi yang dipimpin organisasi buruh, pekerja rumah tangga, dan aktivis perempuan ini bukan sekadar protes, tapi pernyataan hidup. “Kami tidak datang dengan spanduk besar, tapi dengan alat yang setiap hari kami gunakan untuk memasak nasi bagi keluarga,” kata Fanda, seorang buruh pabrik yang sengaja mengambil cuti dari jam kerja demi turun ke jalan. “Naik ojek online saja sekarang bikin napas sesak. Kalau bensin naik, harga beras ikut naik. Siapa yang bayar? Kami.”
Mutiara Ika Pratiwi, perwakilan Aliansi, menjelaskan bahwa MBG—yang awalnya digadang-gadang sebagai solusi pangan bagi anak sekolah—justru menjadi alat pemindahan beban. “Pemerintah bilang ini program keadilan, tapi siapa yang rugi? Ibu-ibu yang kehilangan pekerjaan karena majikan tak mampu lagi mempekerjakan pembantu rumah tangga. Pedagang kecil yang kehilangan pelanggan karena uang belanja habis untuk BBM. Ini bukan bantuan, ini tekanan terselubung.”
Kenaikan harga BBM, menurutnya, telah memicu efek domino yang menghancurkan ekonomi rumah tangga. Harga bahan pokok melonjak, upah buruh stagnan, dan program seperti MBG justru menggantikan peran keluarga dalam menyediakan makanan bergizi—tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan budaya. “Anak-anak butuh makan enak, bukan sekadar makan gratis. Kami ingin pemerintah duduk bersama, bukan mengganti peran ibu dengan kantong nasi.”
Aksi ini juga menyoroti ketidakadilan struktural yang sering diabaikan. Banyak peserta adalah perempuan yang bekerja di sektor informal—penjual keliling, buruh pabrik, dan pekerja rumah tangga—yang tidak dilindungi oleh jaminan sosial. “Kami tidak minta subsidi. Kami minta kebijakan yang melihat kami sebagai manusia, bukan angka di laporan ekonomi,” ujar seorang ibu berusia 42 tahun yang membawa wajan berkarat sebagai simbol ketahanan.
Demonstrasi berlangsung damai, namun penuh makna. Setiap panci yang diangkat adalah cerita keluarga yang berjuang. Setiap daster yang berkibar adalah perlawanan tanpa kekerasan. Dan di depan Istana, tuntutan mereka jelas: hentikan MBG, turunkan harga BBM, dan bangun ekonomi yang berpihak pada perempuan—bukan pada proyek yang mengabaikan realitas hidup mereka.
Pemerintah hingga kini belum memberikan respons resmi. Namun, di jalanan Jakarta, suara perempuan tak lagi bisa diabaikan. Mereka bukan hanya penikmat kebijakan. Mereka adalah yang paling merasakan akibatnya. Dan mereka sudah cukup lelah untuk diam.















