Sumbawanews.com,- Fenomena main hakim sendiri yang semakin marak di sejumlah daerah menjadi indikator melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum. Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Irawan meminta kepolisian mengusut tuntas setiap kasus pengeroyokan berujung kematian, seperti yang terjadi di Bali dan Morowali, dalam sepekan terakhir. Ia menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara hukum tidak boleh membiarkan kekerasan massa menggantikan proses hukum formal.
Ahmad Irawan menyebut dua kasus terbaru yang memicu keprihatinan: pria berinisial KD tewas diamuk massa di Tabanan, Bali, setelah diduga mencuri ayam, dan Setiawan (33), perantau asal Sinjai, yang tewas di Morowali, Sulawesi Tengah, setelah dituduh mencuri sepeda motor. Kedua peristiwa itu berlangsung di depan publik, bahkan di hadapan keluarga korban, dan direkam hingga viral di media sosial. Ia menyatakan rasa sedih dan kekecewaan atas tindakan yang melanggar prinsip keadilan dan hak asasi manusia.
Selain menuntut penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku, Ahmad juga menyerukan agar pemerintah memberikan pendampingan psikologis bagi keluarga korban. Ia menilai akar masalahnya bukan hanya pada kekerasan massa, tetapi pada ketidakpercayaan publik terhadap institusi penegak hukum yang dianggap tidak adil atau tidak konsisten. “Untuk memulihkan kepercayaan, penegakan hukum harus dilakukan secara adil dan konsisten,” tegasnya.
Kasus di Morowali telah dikonfirmasi oleh Kabag Ops Polres Morowali AKP Rustang, yang menyatakan korban awalnya diamankan warga karena diduga mencuri sepeda motor milik pengunjung toko. Rekaman video kejadian itu kini menjadi bukti kuat betapa cepatnya keadilan jalanan menggantikan proses hukum yang seharusnya berjalan.















