Sumbawanews.com,- Presiden China Xi Jinping secara resmi meluncurkan strategi nasional baru untuk mempercepat pemerataan pembangunan antara wilayah timur yang maju dan pedalaman barat yang tertinggal. Dalam pidato di Konferensi Kerja Nasional tentang Kerja Sama Timur-Barat di Yinchuan, Ningxia, Rabu (17/6/2026), Xi menekankan bahwa kemakmuran bersama bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban konstitusional bagi negara yang telah menghapus kemiskinan ekstrem.
Dengan mengangkat model kolaborasi antara Provinsi Fujian di pesisir timur dan Daerah Otonom Ningxia di barat laut sebagai tonggak utama, pemerintah pusat akan memperluas mekanisme bantuan reguler yang mencakup transfer teknologi, mobilitas tenaga profesional, dan reformasi tata kelola pemerintahan daerah. Bukan sekadar aliran dana, program ini dirancang untuk membangun jaringan pengetahuan yang berkelanjutan—di mana kota-kota maju menjadi mitra strategis, bukan hanya donor.
Xi, yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok dan Ketua Komisi Militer Pusat, mengingatkan bahwa keberhasilan pengentasan kemiskinan selama tiga dekade terakhir tidak boleh menjadi titik akhir. “Kita tidak bisa membiarkan kemiskinan kembali dalam bentuk baru,” tegasnya. Pemerintah daerah diminta memastikan program revitalisasi pedesaan berjalan dengan akuntabilitas tinggi, termasuk pengawasan ketat terhadap alokasi anggaran dan partisipasi masyarakat lokal.
Pertemuan yang dihadiri Wakil Perdana Menteri Liu Guozhong itu menandai fase transisi penting: dari pendekatan bantuan darurat menuju sistem ekonomi wilayah yang saling terintegrasi. Dalam kerangka baru ini, kawasan miskin tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai aset strategis yang bisa memicu pertumbuhan nasional—melalui sumber daya alam, tenaga kerja muda, dan potensi industri hijau yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Langkah ini sejalan dengan visi “Kemakmuran Bersama” yang menjadi pilar utama kebijakan Xi sejak 2012. Namun, kali ini, pendekatannya lebih sistemik, lebih teknokratis, dan lebih berorientasi pada keberlanjutan. Dengan memadukan kekuatan ekonomi timur dan semangat pembangunan barat, China bergerak menuju satu tujuan: bukan hanya mengurangi kesenjangan, tapi menghapusnya—secara permanen.















