Home Berita Internasional Wamenlu Havas: ESG Jadi Mesin Pertumbuhan, Bukan Beban Regulasi

Wamenlu Havas: ESG Jadi Mesin Pertumbuhan, Bukan Beban Regulasi

Sumbawanews.com,- Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menegaskan bahwa prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) harus dilihat sebagai peluang bisnis, bukan sekadar kewajiban kepatuhan. Dalam forum High Level Forum yang diselenggarakan Sampoerna University dan Blue Ocean Strategy Fellowship di Four Seasons Hotel, Jakarta, pada Rabu (22/7/2026), Havas menekankan bahwa inovasi berbasis ESG dapat menciptakan nilai ekonomi nyata, bukan hanya biaya operasional.

Ia mencontohkan bagaimana pengurangan emisi karbon di Norwegia bernilai hingga 140 Euro per ton, sementara di Uni Eropa berkisar 80–90 Euro per ton. Menurutnya, perusahaan Indonesia belum memanfaatkan potensi ini, padahal kredit karbon bisa menjadi sumber pendapatan baru. Havas juga menyoroti limbah yang seharusnya dipandang sebagai aset, bukan sampah—dengan mengembangkan konsep waste to energy sebagai solusi berkelanjutan sekaligus menguntungkan.

Havas membandingkan alokasi anggaran riset dan pengembangan (R&D) antara Indonesia dan Jerman, di mana perusahaan di Jerman rata-rata mengalokasikan tujuh persen—bahkan lebih dari sepuluh persen—untuk inovasi, sementara di Indonesia hanya sekitar dua persen. Ia menilai budaya R&D di Indonesia masih lemah dan harus diarahkan untuk menghasilkan teknologi yang mengurangi emisi, menghemat energi, dan menciptakan produk ramah lingkungan yang bernilai jual.

Selain ESG, Havas menekankan pentingnya kedaulatan teknologi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Ia menyatakan pemerintah sedang mengembangkan large language model dan AI agent domestik, namun tantangan besar tetap ada: ketergantungan pada impor semikonduktor. “Kita bisa punya programmer hebat, tapi jika chipnya diblokir, AI tidak bisa berjalan,” ujarnya.

Havas menyerukan Indonesia untuk tidak lagi menjadi pengikut standar global, melainkan menjadi pemimpin dalam menetapkan standar keberlanjutan sendiri. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi, menurutnya, menjadi kunci untuk membangun inovasi, memperkuat daya saing, dan menjadikan ESG sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Previous articlePemain Bintang Ini Gantung Sepatu Usai Piala Dunia 2026
Next articleKementerian Kebudayaan dan ANTARA Rencanakan Kolaborasi Pelestarian Budaya