Sumbawanews.com,- Teheran — Mojtaba Khamenei, putra kedua Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, awalnya menolak nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat, menurut pernyataan resmi yang dirilis media pemerintah pada Kamis (18/6/2026). Namun, setelah menerima jaminan konkret dari Presiden Masoud Pezeshkian dan jajaran pucuk pimpinan Iran, ia akhirnya memberikan persetujuan—dengan syarat bahwa kedaulatan nasional dan kepentingan “front perlawanan” tetap terlindungi.
Dalam pernyataan tertulisnya, Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa isi kesepakatan itu awalnya ia anggap tidak sejalan dengan prinsip-prinsip strategis Iran. Ia menekankan bahwa keputusan untuk menyetujui MoU bukanlah kompromi terhadap tekanan AS, melainkan hasil dari negosiasi internal yang ketat dan komitmen penuh dari pemerintah untuk menjamin tidak ada pengorbanan terhadap kepentingan nasional.
“Jika Amerika Serikat berniat menambah tuntutan di luar apa yang telah disepakati, maka kepemimpinan Iran tidak akan pernah menerimanya,” tegasnya, seperti dikutip Al Jazeera.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan menjelang pertemuan lanjutan di Swiss, yang dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama. Delegasi Iran belum mengambil keputusan final mengenai kehadirannya, dengan sumber-sumber di Teheran mengatakan konsultasi internal masih berlangsung. Namun, pihak Swiss memastikan pertemuan tetap berjalan sesuai jadwal.
Kesepakatan yang ditandatangani secara elektronik oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian merupakan hasil dari gencatan senjata yang ditetapkan setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap target militer Iran pada 28 Februari lalu. Perjanjian ini dianggap sebagai lompatan besar dalam hubungan kedua negara yang selama bertahun-tahun terjebak dalam siklus permusuhan dan sanksi.
Meski menyetujui kesepakatan, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa dialog langsung dengan Washington tidak berarti Iran mengakui legitimasi tuntutan AS. Ia membuka pintu untuk perundingan lebih lanjut—namun dengan batas tegas: tidak ada ruang bagi tekanan tambahan, tidak ada pengakuan terhadap kebijakan hegemonik, dan tidak ada pengorbanan terhadap kepentingan strategis Iran, terutama di wilayah Timur Tengah.
Pernyataannya menjadi sinyal kuat bahwa meskipun Iran bersedia menarik napas panjang, ia tidak akan pernah melepaskan kendali atas nasibnya sendiri. Di balik kesepakatan damai itu, tersimpan kehati-hatian yang mendalam—dan keinginan untuk memastikan bahwa perdamaian yang dibangun bukanlah ilusi, melainkan hasil dari kekuatan dan kewaspadaan.

















