Sumbawanews.com,- Kartel narkoba di Amerika Latin diduga memanfaatkan konflik Rusia-Ukraina untuk mempelajari teknologi dan taktik penggunaan drone bersenjata, dengan sejumlah laporan menyebut adanya pelatihan di Ukraina dan perekrutan veteran perang. Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) menuduh setidaknya 80 anggota kartel Meksiko telah menerima pelatihan perakitan dan pengoperasian drone di lingkungan militer Ukraina, dengan dana berasal dari hasil perdagangan narkotika di Amerika Serikat yang diduga disalurkan melalui pejabat dekat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Namun, SVR tidak mempublikasikan bukti verifikasi seperti identitas peserta, dokumen transaksi, atau data pendukung lainnya, dan hingga 22 Oktober 2026, otoritas Amerika Serikat belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Kekhawatiran tentang perpindahan keahlian perang drone telah muncul sebelum tuduhan Rusia. Laporan The Washington Post pada 22 September 2026, berdasarkan wawancara dengan lima pejabat AS dan satu pejabat Meksiko, mengungkap bahwa kartel Meksiko aktif merekrut individu dengan pengalaman tempur di Ukraina—terutama warga Kolombia yang kembali dari medan perang—untuk menguasai penggunaan drone FPV (first-person view) dalam operasi pertempuran, termasuk menghadapi pengacau sinyal dan meningkatkan daya angkut perangkat. Departemen Luar Negeri AS mengakui bekerja sama dengan Ukraina untuk mencegah penyebaran keterampilan militer ke pihak yang menyalahgunakannya, meski tidak membuktikan keterlibatan pejabat Ukraina dalam skema tersebut.
Dugaan penyusupan individu berafiliasi dengan kartel ke dalam Legiun Internasional Ukraina sudah muncul sejak 2025. Media Prancis Intelligence Online pada 29 Juli 2025 melaporkan adanya indikasi penyusupan orang dari Amerika Latin ke satuan sukarelawan asing untuk mempelajari operasi drone FPV, sebuah teknologi kunci dalam perang modern yang memungkinkan serangan presisi. Investigasi Defense News dan Financial Times pada 2025–2026 memperkuat laporan ini, menyoroti upaya kelompok kriminal Kolombia untuk memperoleh keahlian drone di Ukraina. Namun, keberadaan warga Meksiko atau Kolombia di Ukraina tidak otomatis membuktikan keterkaitan mereka dengan kartel, dan tidak ada bukti bahwa pemerintah Ukraina mengetahui atau menyetujui tujuan kriminal para sukarelawan tersebut.















