Home Berita Internasional Iran Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS

Iran Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS

Sumbawanews.com,- Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan total Selat Hormuz setelah serangan udara Amerika Serikat melanda sejumlah titik strategis di wilayah selatan Iran, termasuk Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik. Serangan yang berlangsung pada Rabu malam, 10 Juni 2026, diklaim AS sebagai respons terhadap “agresi berulang” Teheran, meski Iran menegaskan bahwa pihaknya hanya mempertahankan kedaulatan setelah helikopter Apache milik AS ditembak jatuh di perairan tersebut beberapa hari sebelumnya.

Dalam pernyataan resmi, IRGC menyatakan seluruh lalu lintas maritim—mulai dari kapal tanker minyak hingga kapal komersial—dilarang melintasi selat yang menjadi urat nadi perdagangan energi global itu, hingga pemberitahuan lebih lanjut. “Kami tidak akan membiarkan pelanggaran berulang terhadap kedaulatan kami berlalu tanpa konsekuensi,” tegas juru bicara IRGC. Mereka juga membantah klaim Washington bahwa AS telah membantu memastikan kelancaran pelayaran di wilayah itu, menyebutnya sebagai upaya “mengaburkan fakta agresi militer.”

Ledakan hebat dilaporkan mengguncang tiga lokasi di sepanjang Selat Hormuz, dengan dua kapal tanker minyak yang mencoba melintas secara ilegal menjadi sasaran serangan balasan Iran. Sedikitnya dua warga sipil terluka akibat serangan di Kota Kargan, menambah daftar korban dalam eskalasi ketegangan yang kian memburuk.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam keras ancaman dari mantan Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan AS akan menyerang Iran “dengan sangat keras.” Dalam unggahan di platform X, Pezeshkian menegaskan bahwa infrastruktur vital seperti jaringan listrik, air, dan transportasi bukanlah target yang layak, melainkan bukti keputusasaan dalam menghadapi tekad bangsa yang tak tergoyahkan. “Iran akan tetap berdiri tegak—dengan kecerdasan para spesialisnya, persatuan nasional, dan solidaritas rakyatnya—menghadapi segala bentuk tekanan,” tulisnya.

Sementara itu, pasar global merespons dengan kekhawatiran mendalam. Harga minyak mentah dunia langsung melonjak lebih dari 7% dalam sesi perdagangan Asia, mengingat Selat Hormuz menjadi jalur transit bagi sekitar 20% pasokan minyak global dan 30% perdagangan gas alam cair. Negara-negara pengimpor energi, termasuk China, India, dan Jepang, segera menggelar pertemuan darurat untuk mengevaluasi skenario terburuk.

AS, yang belum mengonfirmasi jumlah kerusakan akibat serangan balasan Iran, tetap mempertahankan narasi bahwa tindakan mereka bersifat “terbatas dan terarah.” Namun, para analis keamanan memperingatkan bahwa langkah penutupan Selat Hormuz oleh Iran bukan sekadar retorika—ini adalah sinyal bahwa konflik regional telah memasuki fase baru yang berpotensi mengganggu tatanan ekonomi global.

Dengan kedua belah pihak saling menegaskan sikap tak mundur, dunia kini menahan napas: apakah diplomasi akan menyelamatkan keseimbangan, atau apakah selat yang selama puluhan tahun menjadi simbol kekuatan maritim akan berubah menjadi medan perang?

Previous articleTNI AD Tertibkan Rumah Dinas Lenteng Agung, Ini Alasannya
Next articleIran Balas Serangan AS dengan Serang Pangkalan di Teluk
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.