Sumbawanews.com,- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya sedang menghadapi perang skala penuh dengan Amerika Serikat, dengan medan pertempuran utama berpindah ke sektor ekonomi dan kehidupan sehari-hari rakyat. Dalam rapat bersama pimpinan lembaga kehakiman, ia menekankan bahwa tekanan dari pihak-pihak yang memusuhi Iran kini tidak lagi berfokus pada serangan militer, tetapi pada pembatasan ekonomi yang memicu ketidakpuasan publik. Pezeshkian memperingatkan bahwa tekanan ini berpotensi mengikis dukungan masyarakat terhadap pemerintahan, sehingga ia menyerukan persatuan dan koordinasi menyeluruh antar cabang kekuasaan.
Ia menegaskan bahwa setiap keputusan pemerintah harus didukung seluruh institusi negara agar tidak melemahkan tatanan kekuasaan, dan menekankan bahwa keadilan adalah pilar utama pemerintahan Republik Islam Iran. Pezeshkian menolak tuduhan bahwa kenaikan harga dan kesulitan ekonomi disebabkan kelalaian pemerintah, menyalahkan pembatasan eksternal sebagai penyebab utamanya. Ia menyebut pemerintah berhasil mencegah kelangkaan barang kebutuhan pokok meski menghadapi tekanan selama perayaan Nowruz dan Ramadan.
Pezeshkian menegaskan bahwa dalam perundingan terbaru dengan AS, Iran tidak pernah mengorbankan prinsip nasionalnya, dan menyatakan bahwa sebagian besar poin dalam nota kesepahaman justru menguntungkan Iran. Ia juga mengakui bahwa koordinasi antarlembaga menjadi lebih rumit dalam kondisi perang, dan meminta pejabat diberi kewenangan untuk mengambil keputusan cepat tanpa terjebak prosedur administratif rutin. Kewenangan tertinggi dalam pengambilan keputusan, menurutnya, tetap berada di tangan Pemimpin Revolusi Islam.
Pezeshkian memuji kerja sama antara Ketua Lembaga Kehakiman, Ketua Parlemen, dan Wali Kota Teheran, yang sebelumnya merupakan pesaing politiknya, sebagai bentuk kesatuan nasional setelah pemilu. Ia menegaskan pemerintahannya tidak dijalankan berdasarkan kepentingan faksi atau partai, dan menegaskan bahwa reformasi struktural di sektor listrik, air, gas, serta sistem gaji pegawai tetap menjadi prioritas, meski terhambat tekanan eksternal dari AS dan rezim Israel. Ia menutup pernyataannya dengan mengutip ayat Al-Quran tentang ujian berupa kelaparan dan ketakutan, serta menyerukan kesabaran sebagai jalan menuju ganjaran ilahi.















