Sumbawanews.com,- Pertemuan antara jajaran perusahaan besar Amerika Serikat dan Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo, pada 28 Juli 2026 di Washington membuka babak baru kerja sama ekonomi kedua negara. Kerja sama yang sebelumnya berfokus pada perdagangan komoditas kini meluas ke sektor bernilai tambah tinggi, termasuk pangan, penerbangan, pertambangan, pertahanan, dan kecerdasan artifisial (AI). Pertemuan yang diinisiasi US-ASEAN Business Council dihadiri tokoh-tokoh bisnis AS seperti Brian McFeeters, Joseph Donovan, dan Robert Blake, menunjukkan minat mendalam pelaku industri AS terhadap peluang di Indonesia.
Di sektor pangan, Cargill dan Caterpillar terus memperkuat peran mereka dalam rantai pasok jagung, kedelai, dan peralatan berat, sementara PepsiCo menjalankan inisiatif keberlanjutan lingkungan. Di bidang penerbangan, Boeing memperdalam kemitraan dengan maskapai nasional dan berpotensi membangun rantai pasok komponen pesawat di dalam negeri. Lockheed Martin menilai peluang modernisasi alat utama sistem persenjataan, sementara Freeport-McMoRan melalui PT Freeport Indonesia tetap menjadi pilar utama dalam pengelolaan sumber daya mineral. Di ranah teknologi, NVIDIA bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk pengembangan talenta AI, sementara Walmart Foundation dan Chubb mendorong penguatan rantai pasok berkelanjutan dan literasi keuangan.
Investasi AS ke Indonesia pada Semester I-2026 mencapai sekitar US$ 1,7 miliar. Pada 2025, ekspor Indonesia ke AS mencapai US$ 31 miliar, atau 11 persen dari total ekspor nasional, dengan produk unggulan meliputi elektronika (US$ 6 miliar), tekstil (US$ 4,9 miliar), alas kaki (US$ 2,8 miliar), minyak sawit (US$ 2,1 miliar), furnitur (US$ 1,4 miliar), dan produk perikanan (US$ 1,2 miliar). Sementara itu, Indonesia mengimpor dari AS berupa kedelai, gandum, kapas, pesawat terbang, satelit, mesin, produk kesehatan, bahan kimia, serta teknologi informasi dan telekomunikasi.
Indroyono Soesilo menekankan bahwa hubungan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka perdagangan, tetapi harus mampu memperkuat industri nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan membawa teknologi baru ke Indonesia. Para pelaku usaha AS memberikan masukan terkait perlunya perbaikan perlindungan hak kekayaan intelektual, konsistensi regulasi antara pusat dan daerah, efisiensi logistik, serta peningkatan kualitas SDM. Dengan pasar domestik besar, sumber daya alam strategis, dan agenda transformasi digital, Indonesia diyakini memiliki potensi besar untuk naik kelas dalam rantai nilai global — dari pemasok bahan mentah menjadi pusat pengolahan, teknologi, dan inovasi.















