Sumbawanews.com,- Filipina kembali diguncang gempa kuat pada Senin (8/6), dengan magnitudo 6,1 yang memicu kerusakan parah di sejumlah wilayah selatan. Gempa ini merupakan susulan dari guncangan dahsyat berkekuatan M7,8 yang terjadi sehari sebelumnya, memperdalam krisis kemanusiaan di Pulau Mindanao.
Pusat gempa berlokasi sekitar 24 kilometer barat Provinsi Sarangani, pada kedalaman 35 kilometer di bawah laut. Getaran kuat yang dirasakan hingga kota-kota besar seperti General Santos langsung memicu kepanikan warga. Video yang beredar di media sosial menunjukkan sebuah pusat perbelanjaan dengan restoran cepat saji runtuh total menjadi tumpukan beton dan baja, sementara warga berteriak histeris, “Ya Tuhan, bangunan itu benar-benar runtuh!”
Sersan Mayor Robert Dagon dari Kepolisian General Santos mengonfirmasi bahwa sejumlah bangunan, termasuk rumah-rumah warga, mengalami kerusakan struktural parah. “Banyak bangunan yang terdampak, tapi kami masih fokus pada operasi penyelamatan,” katanya kepada AFP, menekankan bahwa data korban dan kerusakan belum lengkap karena akses terbatas dan kondisi darurat yang masih berlangsung.
Satu orang dilaporkan tewas akibat kejadian ini, sementara puluhan lainnya terluka atau terjebak di bawah puing. Tim penyelamat bekerja keras di bawah terik matahari, menggunakan peralatan manual karena sebagian jalan rusak dan listrik padam.
Badan Peringatan Tsunami Pasifik sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah pesisir Filipina, Indonesia, Palau, Taiwan, dan Papua Nugini, menyusul gempa awal M7,8. Meski gelombang tsunami akhirnya tidak terjadi secara signifikan, peringatan itu memicu evakuasi massal di kawasan pantai, terutama di Sulawesi dan Maluku.
Filipina, yang berada di Ring of Fire, kerap menjadi sasaran gempa tektonik akibat pergerakan lempeng Pasifik dan Indo-Australia. Namun, gempa beruntun sekuat ini—dengan guncangan utama di atas M7 dan susulan di atas M6—termasuk jarang terjadi dalam satu siklus, memicu kekhawatiran akan aktivitas seismik jangka panjang di wilayah tersebut.
Pemerintah Filipina telah mengaktifkan mekanisme tanggap darurat nasional, sementara bantuan internasional mulai mengalir dari negara-negara tetangga, termasuk Indonesia dan Australia. Masyarakat sipil di kota-kota terdampak berbondong-bondong menyumbang makanan, air, dan perlengkapan medis, sambil berdoa agar tidak ada lagi gempa susulan yang menghancurkan harapan mereka yang masih tersisa.

















