Home Berita Internasional Barat Kesulitan Lawan Rusia, Jenderal NATO Akui Ketimpangan Produksi Senjata

Barat Kesulitan Lawan Rusia, Jenderal NATO Akui Ketimpangan Produksi Senjata

Sumbawanews.com,- NATO mengakui bahwa blok Barat dengan 32 anggota kini kesulitan mengimbangi kecepatan dan kapasitas produksi senjata Rusia di medan perang. Laksamana Pierre Vandier, Panglima Tertinggi Transformasi NATO, menyatakan bahwa sistem pertahanan dan industri militer Barat tidak lagi dirancang untuk menghadapi perang berintensitas tinggi seperti di Ukraina. Ia menegaskan bahwa hitung-hitungan matematis produksi senjata kini tidak berpihak pada Barat, terutama ketika Rusia mampu meluncurkan ribuan drone dan rudal secara berulang dengan biaya rendah. Vandier menilai, upaya memproduksi 50.000 rudal Patriot dalam setahun tidak mungkin dilakukan karena rantai pasok dan model ekonomi industri pertahanan Barat tidak mendukung produksi massal.

Ia menekankan perlunya perubahan strategi pertahanan: senjata murah seperti drone kamikaze dan amunisi berkeliaran harus dihadapi dengan senjata berbiaya rendah yang bisa diproduksi dalam jumlah besar, sementara sistem canggih seperti Patriot dan THAAD tetap dipertahankan untuk menghadapi ancaman strategis seperti rudal balistik dan hipersonik. Menurut Vandier, pendekatan lama yang mengandalkan rudal mahal untuk menembak jatuh drone murah adalah model yang tidak berkelanjutan. Rusia, katanya, lebih cepat beradaptasi, sementara Barat masih terjebak dalam paradigma perang yang sudah usang.

Previous articleIndonesia Resmi Terpilih Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026
Next articleLuke Keet, Pemain Berdarah Indonesia-Australia Kembali ke Liga Indonesia