Sumbawanews.com,- Perkembangan teknologi militer bawah laut memasuki fase baru, dengan Jerman dan Australia mengungkap sistem canggih yang mengubah cara pengawasan dan serangan di laut. Perusahaan Jerman Helsing mengembangkan sistem SG-1 Fathom berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi dan melacak kapal selam melalui analisis suara akustik, sementara Australia membongkar tiga kemampuan rahasia Ghost Sharkâwahana bawah laut tanpa awak yang mampu membawa hingga 12 ranjau laut dan meluncurkan drone udara ALTIUS untuk misi serangan.
Helsing, yang berkantor pusat di Munich, memperkenalkan perangkat lunak Lura pada Mei 2025, yang mampu mengklasifikasikan suara kapal selam hingga 40 kali lebih cepat daripada operator manusia dan mendeteksi sinyal sepuluh kali lebih senyap. Sistem ini dirancang untuk beroperasi hingga tiga bulan tanpa awak, dengan kemampuan membentuk jaringan sensor dari ratusan unit yang dipantau oleh satu operator. Di sisi lain, pemerintah Australia secara resmi mengungkap kemampuan Ghost Shark pada 19 Oktober 2026 di Sydney, menegaskan bahwa wahana itu kini memiliki âtaringâ melalui muatan modular berupa ranjau laut otonom dan drone bersenjata yang diluncurkan dari bawah laut.
Kedua teknologi ini, meski berbeda pendekatanâHelsing fokus pada pengawasan intelijen akustik, sementara Ghost Shark pada serangan otonomâmenunjukkan percepatan perlombaan senjata bawah laut di kawasan Indo-Pasifik. Klaim performa dari kedua pihak belum diverifikasi secara independen, namun pengungkapan ini menandai transisi dari kapal selam berawak menuju sistem otonom yang lebih luas, lebih senyap, dan lebih mematikan.















