Home Berita Internasional Trump Tarik 12 Pengebom B-1 dari Inggris Akibat Ancaman Drone

Trump Tarik 12 Pengebom B-1 dari Inggris Akibat Ancaman Drone

Sumbawanews.com,- Amerika Serikat menarik dua belas pesawat pengebom strategis B-1 dari pangkalan udara RAF Fairford di Inggris pada awal Oktober 2026, menyusul informasi intelijen tentang potensi serangan drone yang diduga terkait Iran. Keputusan mendadak itu memicu kekhawatiran atas kerentanan fasilitas militer Barat terhadap ancaman teknologi rendah namun mematikan, meski belum ada bukti konkret serangan telah direncanakan atau dilancarkan. Pemindahan pesawat-pesawat tersebut dilakukan setelah sejumlah kejadian mencurigakan di sekitar pangkalan, termasuk penangkapan tujuh orang terkait aktivitas mencurigakan di dekat wilayah tersebut.

RAF Fairford, yang selama ini menjadi basis operasi pesawat pengebom jarak jauh AS di Eropa, digunakan sejak Februari 2026 untuk mendukung misi militer terhadap Iran. Namun, setelah polisi Inggris menangkap lima pria pada 27 September dengan kendaraan van berisi bensin—tanpa ditemukan drone atau bahan peledak—dan kemudian menangkap dua orang lagi pada 1 dan 6 Oktober, termasuk seorang warga ganda Inggris-Iran, kekhawatiran keamanan meningkat tajam. Meski belum ada bukti hukum yang menghubungkan tersangka secara langsung dengan pemerintah Iran, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ancaman yang diperoleh dari intelijen cukup serius untuk mengevakuasi aset senilai miliaran dolar. “Kami mendapat informasi bahwa mungkin ada ancaman. Jadi, mengapa saya harus membiarkan pesawat-pesawat itu tetap berada di sana?” ujarnya.

Pentagon menegaskan bahwa pemindahan itu bersifat pencegahan dan tidak mengurangi kemampuan serangan jarak jauh AS di Timur Tengah. Sementara itu, Kepolisian Kontraterorisme Inggris menyatakan penyelidikan masih berlangsung, dengan fokus pada motif dan kemungkinan jaringan di balik aktivitas mencurigakan itu. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyebut ada indikasi kuat keterlibatan Iran, tetapi tidak mengungkap bukti independen. Iran membantah tudingan itu dan menyebutnya tidak berdasar. Di dalam pemerintahan AS sendiri, terdapat perbedaan narasi: sementara Trump dan Wakil Presiden JD Vance mengaitkan keputusan itu dengan ancaman Iran, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan tidak ada hubungan langsung yang terbukti antara pemindahan pesawat dan dugaan rencana serangan.

Hingga kini, belum ada drone yang disita, belum ada serangan yang terjadi, dan belum ada bukti resmi yang menghubungkan Teheran secara langsung dengan insiden tersebut. Namun, langkah evakuasi itu telah menggambarkan perubahan mendasar dalam dinamika perang modern—di mana pesawat pengebom canggih harus mundur bukan karena serangan balasan, tetapi karena ancaman dari alat yang harganya jauh lebih murah dan tersedia secara komersial.

Previous articleMessi Pergi, Nomor 10 Argentina Menanti Penerusnya
Next articleKebakaran Hebat Landa Permukiman Padat di Senen, 30 Unit Damkar Dikerahkan