Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump merayakan ulang tahunnya yang ke-80 dengan sebuah perayaan tak biasa: menggelar ajang Ultimate Fighting Championship (UFC) di halaman selatan Gedung Putih, pada Minggu (15/6/2026) waktu setempat. Acara itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, sekaligus menandai momen paling spektakuler dalam sejarah kepresidenan modern yang digelar di kompleks kepresidenan.
Ribuan penonton memadati area yang disiapkan di luar Gedung Putih, sementara di dalam arena, Trump duduk di barisan terdepan bersama Ibu Negara Melania Trump dan CEO UFC Dana White. Panggung pertarungan berbentuk seperti cakar raksasa—dikenal sebagai “The Claw”—berdiri megah di tengah halaman hijau, menjadi simbol visual dari keberanian dan kegigihan yang menjadi tema perayaan.
Pertandingan utama mempertemukan Justin Gaethje, petarung asal Amerika Serikat, melawan Ilia Topuria, petarung Spanyol-Georgia yang sebelumnya tak terkalahkan dalam 17 laga. Gaethje menang setelah pertarungan sengit selama empat ronde, ketika tim sudut Topuria menghentikan pertandingan karena cedera parah. Kemenangan itu mengakhiri rekor sempurna Topuria dan mengukuhkan Gaethje sebagai juara kelas ringan UFC.
Kejutan lain datang dari Ciryl Gane, petarung Prancis, yang mengalahkan mantan juara dua divisi asal Brasil, Alex Pereira, untuk merebut gelar interim kelas berat. Di laga-laga pendukung, nama-nama seperti Sean O’Malley, Josh Hokit, Mauricio Ruffy, Bo Nickal, dan Diego Lopes juga mencatat kemenangan, memperkuat kesan bahwa malam itu adalah pesta olahraga bela diri campuran terbesar yang pernah diselenggarakan di lingkungan Gedung Putih.
Setelah pertandingan, Gaethje mendekati Trump untuk berjabat tangan. Presiden AS itu memuji acara tersebut sebagai “salah satu pertunjukan olahraga terbaik yang pernah saya saksikan,” dan menyebut UFC sebagai simbol semangat Amerika: keras, tak kenal menyerah, dan penuh keberanian.
Namun, perayaan ini tak lepas dari kontroversi. Josh Hokit memicu gejolak setelah dalam pidato usai pertandingan menyebutkan nama mantan Ibu Negara Michelle Obama dengan nada yang dianggap tidak pantas. Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras di media sosial dan dari kalangan aktivis. CNN melaporkan bahwa pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi, sementara perwakilan Michelle Obama juga belum berkomentar.
Di luar kompleks, sejumlah kelompok masyarakat menggelar aksi protes, mengecam penggunaan Gedung Putih sebagai venue hiburan olahraga komersial. Kritikus menyebutnya sebagai “politik spektakuler” yang mengaburkan fungsi institusi negara.
Meski demikian, acara ini berhasil menarik perhatian global—dari penggemar MMA hingga para pengamat politik—dan menjadi bukti nyata bahwa Trump, meski telah menginjak usia 80 tahun, masih mampu menciptakan momen yang memecah belah sekaligus memikat.
Setelah acara berakhir, Trump langsung melanjutkan perjalanan menuju Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7, membawa serta jejak kontroversi dan kejayaan dari malam yang tak akan dilupakan.

















