Sumbawanews.com,- Jakarta – Mojtaba Khamenei, putra tertua Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa upaya pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump untuk mencapai kesepakatan damai dengan Teheran telah runtuh tanpa jejak. Dalam pernyataan langka yang dirilis melalui saluran resmi keluarga Khamenei, ia menegaskan bahwa Washington tidak pernah serius mengejar perdamaian, melainkan hanya memanfaatkan negosiasi sebagai alat tekanan politik.
“Mereka datang dengan janji-janji manis, lalu menghancurkannya dengan sanksi dan ancaman militer,” ujar Mojtaba, yang dikenal sebagai salah satu penasihat paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran. Menurutnya, kegagalan kesepakatan sebelumnya—yang sempat dianggap sebagai terobosan pada masa pemerintahan Obama—tidak hanya disebabkan oleh keputusan Trump untuk menarik diri dari JCPOA pada 2018, tetapi juga oleh sikap konsisten AS yang menolak mengakui hak Iran atas program nuklir sipil.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk Persia, di mana kapal-kapal militer AS kembali berpatroli dekat jalur pelayaran strategis, sementara Iran terus memperluas kapasitas pengayaan uranium hingga 60 persen—jauh di atas batas yang diizinkan kesepakatan nuklir. Mojtaba menekankan bahwa Iran tidak akan kembali ke meja perundingan kecuali AS menunjukkan “niat tulus” dengan mencabut semua sanksi sekaligus mengembalikan akses perbankan internasional kepada bank-bank Iran.
Meski demikian, ia menolak menyebut perang sebagai pilihan. “Kami tidak mencari konflik, tetapi kami tidak takut pada perang,” katanya. “Kekuatan sejati bukan pada rudal atau kapal perang, tapi pada keteguhan hati sebuah bangsa yang tidak pernah menyerah pada tekanan.”
Analisis keamanan regional menunjukkan bahwa pernyataan Mojtaba ini bukan sekadar retorika. Ia merupakan bagian dari strategi komunikasi Iran yang semakin terstruktur: mempertahankan posisi keras di depan publik domestik, sekaligus mengirim sinyal halus ke pihak-pihak internasional bahwa Teheran masih terbuka untuk dialog—jika syaratnya jelas dan adil.
Sementara itu, Gedung Putih belum memberikan respons resmi terhadap pernyataan tersebut. Namun, sumber diplomatik di Washington mengatakan bahwa pemerintah saat ini—yang dipimpin oleh Presiden Joe Biden—tetap mempertahankan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran, meski secara diam-diam membuka saluran komunikasi melalui negara-negara netral seperti Oman dan Qatar.
Dengan ketegangan yang terus memanas, dunia kini menanti apakah diplomasi akan menang, atau apakah kawasan ini akan tergelincir ke dalam konflik yang lebih luas—dengan harga yang mungkin tak bisa dibayar oleh siapa pun.

















