Home Berita Olah Raga Timnas Indonesia Terjebak Siklus Kegagalan Pasca Shin Tae-yong, Pengamat Bandingkan dengan Kutukan...

Timnas Indonesia Terjebak Siklus Kegagalan Pasca Shin Tae-yong, Pengamat Bandingkan dengan Kutukan Benfica

Sumbawanews.com,- Sejak Shin Tae-yong diberhentikan pada awal 2025, Timnas Indonesia terperangkap dalam rangkaian kegagalan berturut-turut di berbagai ajang bergengsi, mulai dari kualifikasi Piala Dunia, Asian Games, SEA Games, hingga terbaru gagal lolos dari fase grup Piala AFF 2026. Pengamat sepak bola Bung Harpa menyebut pola ini bukan kebetulan, melainkan mirip dengan kutukan yang menimpa Benfica setelah mengusir pelatih Bela Guttmann pada dekade 1960-an. Menurut Bung Harpa, sejak kepergian Shin, semua kompetisi yang diikuti timnas — baik di level senior maupun usia muda — berakhir dengan kekecewaan, seolah ada “karma” yang menghantui. Ia menyoroti bagaimana Benfica, meski sering mencapai final kompetisi Eropa setelah Guttmann pergi, tak pernah lagi meraih gelar, bahkan setelah legenda Eusébio berdoa di makam sang pelatih. Guttmann sendiri pernah bersumpah bahwa Benfica tak akan juara Eropa dalam seratus tahun setelah dikhianati, sebuah kutukan yang terdengar nyata hingga kini. Di Indonesia, meski skuad di bawah John Herdman dinilai cukup mumpuni tanpa pemain luar negeri, hasil di lapangan tak kunjung membaik, memicu tanya besar: apakah ini sekadar keberuntungan buruk, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang terjadi?

PSSI dan para pemain pun telah mengeluarkan permintaan maaf usai kegagalan di Piala AFF 2026, tetapi tidak ada perubahan struktural yang signifikan yang mampu memutus siklus ini. Bung Harpa menekankan bahwa kegagalan bukan hanya terjadi di satu ajang, melainkan beruntun: dari kualifikasi Piala Dunia 2026, Asian Games, Piala AFF U-23, Piala Dunia U-17, SEA Games, hingga Piala AFF 2026 — semua berakhir dengan kekalahan atau eliminasi dini. Analogi dengan Benfica bukan sekadar metafora, melainkan peringatan: ketika keputusan manajerial mengabaikan kontribusi pelatih yang membawa keberhasilan, tim bisa terjebak dalam lilitan takdir yang sulit dipecahkan. Dan seperti yang terjadi di Lisbon selama enam dekade, mungkin Indonesia kini sedang menunggu waktu yang tepat — atau pelatih yang tepat — untuk memutuskan kutukan itu.

Previous articleJustin Hubner Dijadikan Incaran Qarabag FK, Tolak Tawaran Persija
Next articleReal Madrid Penguasa Piala Super Eropa, PSG dan Villa Rebut Gelar Kedua