Sumbawanews.com,- Timnas Indonesia resmi tersingkir dari Piala AFF 2026 setelah bermain imbang 1-1 melawan Singapura pada laga terakhir Grup A di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8/2026). Hasil itu membuat skuad Garuda finis di posisi ketiga dengan tujuh poin, gagal melaju ke semifinal untuk kedua kalinya berturut-turut. Kegagalan ini memicu kritik tajam terhadap Mitchell Baker, pencetak empat gol terbanyak tim di turnamen ini, yang dinilai tak mampu memberi dampak signifikan saat Indonesia membutuhkan gol kemenangan.
Media Vietnam Soha menyindir penurunan performa Baker dengan judul “Dari seorang pahlawan yang dipuja oleh Indonesia, Mitchell Baker ‘kembali ke bumi’”. Analis sepak bola Indonesia Gita Suwondo menilai, Baker gagal memanfaatkan peluang emas di babak pertama ketika dribelnya dihentikan bek lawan, serta sering kehilangan penguasaan bola di area tepat di luar kotak penalti Singapura. Menurut Gita, sebagai penyerang tengah, Baker terlalu bergantung pada umpan matang dari rekan setim—dua golnya berasal dari sundulan sempurna, dua lainnya dari jarak dekat setelah assist sempurna. Namun, ketika harus menciptakan peluang sendiri, ia tak mampu menunjukkan kepiawaian individu yang diharapkan.
Gita menekankan, seorang striker nomor 9 seharusnya tidak hanya menunggu bola, tapi mampu menciptakan ruang, menggiring bola dalam tekanan, dan menyelesaikan peluang secara mandiri. “Kehilangan bola pada umpan terakhir seharusnya tidak terjadi pada pemain yang dilatih pelatih kelas dunia,” ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kegagalan mencetak gol bukan tanggung jawab tunggal Baker, melainkan hasil dari proses kolektif yang melibatkan pergerakan tanpa bola, umpan, dan penyelesaian akhir.
Dalam situasi krusial setelah Singapura menyamakan kedudukan, Indonesia membutuhkan sosok yang bisa memecah kebuntuan lewat kemampuan individu—tapi Baker tak mampu menjadi pembeda. Padahal, sebelumnya ia menjadi sorotan utama berkat empat golnya di tiga laga sebelumnya. Kini, penampilannya melawan Singapura menjadi bahan evaluasi berat, sekaligus simbol kegagalan tim dalam mengubah dominasi menjadi kemenangan saat paling dibutuhkan.















