Home Serba Serbi Tekno Tangsel Terjebak Polusi, Mobilitas Jadi Akar Masalah

Tangsel Terjebak Polusi, Mobilitas Jadi Akar Masalah

Sumbawanews.com,- Tangerang Selatan kembali menjadi episentrum polusi udara terburuk di Indonesia, dengan konsentrasi partikel PM2.5 yang kerap melampaui ambang batas aman World Health Organization (WHO). Data terbaru menunjukkan, rata-rata kualitas udara di kota satelit Jakarta ini menyentuh lebih dari 50 mikrogram per meter kubik—lebih dari satu kali lipat batas aman Interim I WHO yang hanya 35 mikrogram. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi lonceng bahaya yang berdentang setiap hari bagi jutaan warga yang bernapas di tengah kabut debu halus tak kasat mata.

Pertumbuhan kendaraan bermotor yang tak terkendali menjadi akar utama masalah. Menurut Badan Pusat Statistik Banten, jumlah kendaraan di Tangerang Selatan mencapai 1,63 juta unit pada 2025, meningkat tajam dari tahun-tahun sebelumnya. Setiap kemacetan di Ciputat, Serpong, atau BSD City bukan hanya menghabiskan waktu, tapi juga memuntahkan tonase emisi yang menempel di paru-paru warga. “Polusi udara adalah *silent stressor*,” ujar Wisya Aulia Prayudi, Ahli Kesehatan Lingkungan dari CISDI. “Ia tak berbunyi, tapi merusak secara perlahan—masuk ke aliran darah, memicu gangguan pernapasan, bahkan menurunkan produktivitas generasi muda yang seharusnya berenergi.”

Tak hanya fisik, kesehatan mental pun ikut terguncang. Psikolog klinis Winona Lalita menyoroti tekanan ganda yang dialami mahasiswa dan pekerja muda: perjalanan panjang, udara tercemar, dan tuntutan produktivitas yang tak pernah reda. “Kecemasan yang timbul dari lingkungan yang tidak ramah bukanlah reaksi berlebihan. Ia adalah respons alami terhadap ketidakamanan,” katanya. Ia menyarankan hal sederhana: mulailah hari dengan melihat tanaman. Satu menit menatap hijau, bisa jadi obat penenang yang tak ternilai.

Sementara itu, kreator lingkungan Nada Arini menyoroti sistem yang gagal. Pembakaran sampah yang kerap terjadi di permukiman bukan karena warga ceroboh, tapi karena layanan pengangkutan sampah tak berjalan. “Orang membakar bukan karena ingin mencemari, tapi karena tidak punya pilihan,” ujarnya. Asap dari tumpukan sampah rumah tangga itu, tak kalah berbahaya dari knalpot mobil—menjadi sumber polusi kedua yang diabaikan.

Solusi tak bisa hanya mengandalkan kesadaran individu. Dimas Gilang dari Bike2Work Indonesia menekankan perlunya transformasi sistem transportasi yang terintegrasi. “Kita tidak bisa mengharapkan orang bersepeda jika tidak ada jalur aman, parkir sepeda di stasiun, atau koneksi yang nyaman ke transportasi umum,” katanya. Ia mengajak masyarakat memulai dari hal kecil: berjalan kaki jika jaraknya kurang dari 2 kilometer, atau memilih angkutan umum daripada mobil pribadi—konsisten, bukan sekadar tren.

Tangerang Selatan bukan sekadar kota yang kelebihan kendaraan. Ia adalah cermin sistem perkotaan yang gagal menyeimbangkan pertumbuhan dengan kesehatan. Tanpa kebijakan tegas, infrastruktur hijau, dan kesadaran kolektif, polusi bukan hanya akan tetap ada—tapi akan semakin mengikat warganya dalam lingkaran sakit, lelah, dan keputusasaan.

Previous articleRatusan Warga Ciputat Pawai Obor Sambut 1 Muharram
Next articleDiskusi di UGM Berubah Jadi Adu Mulut Massa
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.