Sumbawanews.com,- Israel melancarkan serangan udara ke kawasan Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Minggu (7/6), menghancurkan sejumlah bangunan bertingkat dan meninggalkan puing-puing berserakan di jalanan. Rekaman video yang beredar menunjukkan gedung-gedung berlubang, dinding runtuh, dan mobil-mobil terbalik akibat ledakan hebat yang dipicu oleh rudal dan bom presisi tinggi.
Militer Israel menyatakan serangan itu sebagai respons terhadap serangan roket dari kelompok Hizbullah yang menargetkan wilayah utara Israel dalam beberapa hari terakhir. Menurut pernyataan resmi, target serangan adalah markas komando dan gudang senjata Hizbullah yang tersembunyi di tengah pemukiman padat penduduk—sebuah taktik yang sering dikritik oleh organisasi hak asasi manusia sebagai pelanggaran hukum humaniter.
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat mengumumkan upaya diplomatik untuk mendorong gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Namun, upaya tersebut tampaknya belum membuahkan hasil nyata, sebab eskalasi kekerasan justru memburuk. Pada malam yang sama, Iran melancarkan serangan balasan dengan menembakkan puluhan rudal ke wilayah Israel, memperdalam siklus balas-membalas yang kian sulit dihentikan.
Kawasan Dahiyeh, yang menjadi basis utama Hizbullah, telah menjadi sasaran berulang dalam konflik ini. Penduduk setempat melaporkan kepanikan massal, dengan ribuan orang mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman. Rumah sakit terdekat dilaporkan kewalahan menangani korban luka, sementara layanan listrik dan air terputus di sebagian besar wilayah tersebut.
Pertempuran ini tidak hanya memperdalam penderitaan warga sipil Lebanon, tetapi juga mengancam stabilitas regional. Dengan AS dan sekutu Eropa yang terus mendorong perdamaian, sementara aktor-aktor bersenjata di kedua sisi tampak memilih jalan kekerasan, harapan akan gencatan senjata yang berkelanjutan semakin tipis. Di tengah keheningan diplomatik, yang terdengar jelas hanyalah suara ledakan—dan deru pesawat tempur yang terus menghantui langit Beirut.

















