Sumbawanews.com,- Ronald Koeman mengakhiri masa kepelatihannya bersama Timnas Belanda setelah Oranje tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Keputusan itu diumumkannya langsung lewat pernyataan pribadi tak lama setelah kekalahan dramatis dari Maroko lewat adu penalti, 2-3, di Estadio Monterrey pada 30 Juni 2026.
Pertandingan yang berakhir imbang 1-1 setelah perpanjangan waktu itu menjadi penutup pahit bagi tim asuhan Koeman. Cody Gakpo membawa Belanda unggul lebih dulu, namun Issa Diop menyamakan kedudukan. Dalam adu penalti, Neil El Aynaoui, Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Achraf Hakimi gagal mengeksekusi tendangannya, sementara Crysencio Summerville menjadi penendang terakhir yang gagal mengubah nasib tim. Ismael Saibari pun menutup kisah dengan gol penentu kemenangan Maroko.
Kekalahan itu memperpanjang kutukan Belanda di Piala Dunia: untuk ketiga kalinya berturut-turut, tim Oranje tersingkir lewat adu penalti. Namun, Koeman menegaskan bahwa keputusannya mundur bukan semata karena hasil di lapangan.
Dalam pernyataannya, pelatih berusia 63 tahun itu mengaku sangat bangga atas perjalanan karier kepelatihannya, tetapi juga tak bisa menyembunyikan kekecewaan mendalam. “Saya memikul tanggung jawab penuh atas kegagalan ini. Tidak ada yang lebih kecewa daripada saya,” tulisnya.
Namun, di balik keputusan itu, ada cerita yang jauh lebih personal. Koeman membuka hatinya tentang perjuangan istrinya, Bartina, yang tengah berjuang melawan kanker payudara. “Beberapa tahun terakhir membuat saya menyadari bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada sepak bola. Ketika seseorang yang Anda cintai berjuang melawan penyakit berat, cara pandang Anda berubah,” ujarnya.
Ia menambahkan, Bartina tetap menjadi sumber kekuatan baginya, mendukung dan menyemangatinya setiap hari meski sedang menjalani pengobatan. “Saya menghargainya lebih dari yang bisa saya ungkapkan dengan kata-kata.”
Dengan mundurnya Koeman, berakhirlah periode kedua kepelatihannya bersama Timnas Belanda — sebuah babak yang dimulai pada 2018 dan berakhir dengan kegagalan di panggung terbesar sepak bola dunia, namun ditinggalkan dengan kehormatan yang tak terukur oleh kekuatan cinta dan kemanusiaan.















