Sumbawanews.com,- Timnas Qatar, juara Piala Asia 2023, resmi tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Bosnia dan Herzegovina 3-1 di Seattle Stadium. Hasil ini mengukuhkan mereka sebagai tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gagal menang dalam tiga pertandingan sekaligus setelah meraih gelar kontinental.
Dalam laga penentu Grup B yang berlangsung dini hari tadi, Bosnia memperlihatkan dominasi penuh. Kerim Alajbegovic membuka keunggulan pada menit ke-22, diikuti gol bunuh diri Sultan Al Brake dan tendangan Ermin Mahmic yang memperlebar keunggulan menjadi 3-0. Satu-satunya jawaban Qatar datang lewat Hassan Al Haydos, yang memperkecil skor menjadi 3-1 pada menit ke-78—tapi tak cukup untuk menyelamatkan mimpi mereka.
Dengan hasil ini, Qatar finis di posisi terbawah Grup B dengan hanya satu poin dari tiga laga: imbang 1-1 melawan Swiss, kalah telak 6-0 dari Kanada, dan kini kalah 3-1 dari Bosnia. Mereka mencetak hanya dua gol sepanjang turnamen, sekaligus kebobolan 10 kali—rekor terburuk di antara semua tim yang tersingkir di fase grup.
Kegagalan ini menjadi ironi besar bagi tim yang baru saja merayakan puncak kejayaan di Asia. Di bawah arahan pelatih Julen Lopetegui, Qatar yang dikenal dengan permainan terorganisir dan serangan mematikan lewat Akram Afif, justru tampil rapuh di panggung dunia. Kekalahan ini menjadikan mereka tim keenam yang gagal lolos dari fase grup di Piala Dunia 2026, menyusul Haiti, Turki, Tunisia, Yordania, dan Panama.
Sementara itu, Bosnia dan Herzegovina—yang sebelumnya belum pernah menang dalam dua laga awal—berhasil bangkit dengan kemenangan bersejarah ini. Mereka finis di posisi ketiga Grup B dengan empat poin, tetap tersingkir karena selisih gol, namun meninggalkan jejak kebanggaan sebagai tim yang tak pernah menyerah.
Qatar kini harus menghadapi refleksi mendalam: apakah dominasi di level Asia bisa menjadi fondasi untuk bersaing di level global? Ataukah mereka sekadar tim yang unggul dalam lingkup terbatas, namun tak siap menghadapi keganasan sepak bola dunia?
Dengan tersingkirnya juara bertahan, Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa gelar kontinental bukan jaminan kesuksesan di panggung tertinggi.















