Sumbawanews.com,- Aleksander Ceferin, Presiden UEFA, memboikot final Piala Dunia 2026 di New Jersey Stadium pada Senin, 20 Juli 2026, menyusul ketidakpuasan mendalam terhadap keputusan FIFA yang dianggap merusak integritas sepak bola global. Keputusan ini diambil setelah serangkaian kebijakan FIFA dinilai melanggar aturan, memihak kepentingan politik, dan mengabaikan kepentingan penggemar. Ceferin, yang sempat hadir di pembukaan turnamen di Mexico City, memilih tidak hadir dalam laga Spanyol melawan Argentina, sebagai bentuk protes terhadap praktik-praktik yang dianggapnya tidak sejalan dengan nilai-nilai olahraga.
UEFA mengecam keras keputusan FIFA yang menangguhkan kartu merah striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, di babak 16 besar, yang diduga dipengaruhi intervensi pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump. Meski FIFA menyatakan keputusan itu diambil oleh panel independen, UEFA menilai tindakan itu sebagai campur tangan politik yang membahayakan netralitas peraturan. Selain itu, UEFA juga menolak penerapan *hydration break* yang membagi pertandingan menjadi empat kuarter, menganggapnya sebagai upaya memaksimalkan pendapatan iklan sekaligus merusak alur permainan. Waktu istirahat di final yang mencapai hampir setengah jam pun dianggap melanggar batas maksimal 15 menit yang ditetapkan aturan.
Ketidaksepakatan juga muncul terkait harga tiket yang melambung akibat sistem penyesuaian dinamis, membuat fans kesulitan mengakses pertandingan. Sebagai gantinya, UEFA menegaskan akan menjaga harga tiket Euro 2028 tetap terjangkau, di kisaran 30-60 poundsterling, tanpa mekanisme harga dinamis. Selain itu, Ceferin juga menolak mentah-mentah usulan Presiden FIFA Gianni Infantino untuk memperluas Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, menilai proposal itu mengurangi kualitas dan kredibilitas turnamen.
UEFA juga memberikan respons positif terhadap kasus wasit Somalia, Omar Artan, yang ditolak masuk AS, dengan menunjuknya memimpin laga Piala Super Eropa antara Paris Saint-Germain dan Aston Villa pada Agustus mendatang. Sikap ini menjadi simbol dukungan UEFA terhadap keadilan dan otonomi sepak bola, sekaligus pernyataan tegas terhadap otoritas FIFA yang dianggap semakin terkooptasi oleh kepentingan eksternal.















