Sumbawanews.com,- Mantan kapten timnas Prancis, Patrice Evra, memperingatkan Les Bleus agar tidak meremehkan Maroko menjelang laga perempat final Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung Jumat, 10 Juli 2026, pukul 03:00 WIB di Boston Stadium. Evra memuji ketangguhan, soliditas, dan semangat juang tim Afrika itu yang telah menyingkirkan Brasil, Belanda, dan Kanada dalam perjalanan mereka ke babak delapan besar. Ia menekankan bahwa Maroko bukan lawan biasa, melainkan tim yang berbahaya di fase gugur karena kekompakan dan mental juangnya.
Evra, yang pernah menjadi tulang punggung pertahanan Prancis di masa kejayaannya, menyoroti kinerja Kylian Mbappe yang memang tampil gemilang, tetapi menegaskan bahwa gelar Piala Dunia tidak bisa diraih hanya mengandalkan satu bintang. Menurutnya, keberhasilan Prancis di Qatar 2022 terhambat karena terlalu bergantung pada Mbappe, sementara peran tim secara keseluruhan kurang terlihat. Kini, ia melihat perkembangan positif pada pemain bintang itu yang lebih sering melibatkan rekan-rekannya, namun tetap menegaskan bahwa kesuksesan besar hanya bisa diraih jika seluruh pemain menjalankan peran masing-masing dengan disiplin.
Pujian Evra bukan tanpa dasar. Maroko, di bawah arahan Mohamed Ouahbi, telah menunjukkan kemampuan bertahan yang ketat dan serangan mematikan melalui pemain-pemain seperti Achraf Hakimi. Mereka mampu menahan imbang juara dunia lima kali Brasil di fase grup, mengalahkan Belanda di babak 16 besar, lalu menghancurkan Kanada 3-0 untuk melangkah ke perempat final. Kemenangan-kemenangan itu membuktikan bahwa tim Afrika ini bukan sekadar pengacau, tapi tim yang siap menciptakan sejarah.
Dengan tekanan besar menghadapi tim yang dianggap unggul, Prancis yang dipimpin Didier Deschamps harus menjaga keseimbangan antara serangan dan pertahanan. Evra menekankan bahwa pengalaman dan kekompakan tim akan menjadi kunci utama, bukan hanya bakat individu. Laga ini bukan sekadar duel antara dua negara, tapi ujian bagi filosofi permainan Prancis yang selama ini mengandalkan kecepatan dan individu, kini harus berhadapan dengan disiplin kolektif Maroko yang tak kenal menyerah.















