Home Berita Nasional Petugas Haji Jaga Semangat Ibadah Jemaah Rentan

Petugas Haji Jaga Semangat Ibadah Jemaah Rentan

Sumbawanews.com,- Di tengah hiruk-pikuk ribuan jemaah yang berbondong-bondong menuju Arafah, Mina, dan Makkah, ada kelompok yang tak terlihat—namun tak terabaikan. Mereka adalah jemaah risiko tinggi: lansia dengan keterbatasan fisik, penderita penyakit kronis, atau mereka yang kehilangan orientasi di tengah kerumunan suci. Di balik layanan yang terkesan sederhana, tersimpan komitmen luar biasa dari tim Landis (Lansia dan Disabilitas) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Setiap pagi, sebelum matahari membelah langit Makkah, para petugas Landis sudah bergerak. Mereka mendatangi hotel-hotel tempat jemaah menginap, bukan hanya untuk memeriksa kondisi, tapi untuk hadir—sebagai penopang, sebagai pengingat, sebagai tangan yang menuntun. “Kami tidak hanya membantu makan, minum, atau memberi obat,” ujar Rika Novianti, petugas Landis PPIH, saat ditemui di Makkah, Kamis (18/6/2026). “Kami juga menemani, mendengarkan, dan kadang hanya duduk diam bersama—karena dalam keheningan itu, mereka merasa tidak sendiri.”

Di antara ratusan jemaah yang dipantau, satu kisah menggugah hati: Suhada, jemaah berusia 84 tahun dari Kloter SOC 69 yang mengalami demensia. Ia tak lagi ingat di mana ia berada—apakah di Makkah, di rumah, atau di masa lalu. Tapi setiap kali terbangun, pertanyaan pertamanya selalu sama: “Ini jam berapa? Sudah masuk waktu salat belum?” Tidak ada kekhawatiran akan kelelahan, tidak ada rindu pada keluarga yang terpisah jauh—yang ada hanyalah keinginan tak tergoyahkan untuk menunaikan ibadah sesuai waktu yang ditetapkan.

Kehadiran tim Landis menjadi jembatan antara keterbatasan tubuh dan keteguhan jiwa. Mereka mengatur Safari Wukuf Lansia (SWL), sebuah program khusus yang mengangkut jemaah yang tak mampu berjalan ke Arafah dengan bus khusus, memastikan mereka tetap bisa menyaksikan puncak haji—meski dari jarak yang aman. Rangkaian ibadah lain seperti lontar jumrah atau tawaf ifadlah pun dibadalkan sesuai syariat, tanpa mengurangi makna spiritualnya.

Namun, pelayanan ini bukan hanya dimulai di Tanah Suci. Rika menekankan, persiapan kesehatan sejak di Indonesia adalah kunci utama. “Kami berharap proses istithaah—penilaian kesehatan sebelum keberangkatan—bisa lebih ketat dan komprehensif. Jemaah yang berangkat harus benar-benar siap, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara psikologis,” ujarnya.

Di balik setiap kunjungan, setiap obat yang diberikan, setiap tangan yang memegang gelas air, tersimpan sebuah prinsip: ibadah haji bukan milik mereka yang kuat saja. Ia adalah perjalanan spiritual yang menghargai setiap nafas, setiap detak jantung yang masih berusaha berzikir, bahkan ketika ingatan telah kabur.

Dalam keramaian jutaan orang yang mencari keutamaan, tim Landis justru menemukan keagungan dalam keheningan—ketika seorang lansia yang tak ingat namanya sendiri, masih ingat waktu salat. Dan di situlah, ibadah sejati berlangsung: bukan di atas karpet, tapi di dalam hati yang tak pernah berhenti mengingat-Nya.

Previous articleWanita Muda Ditemukan Tewas Gantung Diri di Bogor
Next articleGencatan Senjata Belum Basah, Israel Serang Lebanon
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.