Sumbawanews.com,- Persebaya resmi menjadi juara Piala Presiden 2026 setelah mengalahkan Persib Bandung 6-5 lewat adu penalti, setelah bermain imbang 1-1 hingga akhir perpanjangan waktu di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, pada 6 Agustus 2026. Gelar ini menjadi trofi pertama klub berjuluk Bajul Ijo di ajang tersebut, sekaligus fondasi kuat menjelang kompetisi Liga 1 2026/2027. Namun, di balik gemerlap kemenangan, keberhasilan tim asal Surabaya ini dibangun di atas sistem pemulihan, pemantauan kesehatan, dan pencegahan cedera yang terukur dan berkelanjutan.
Chief Medical Officer Persebaya, dr. Pratama Wicaksana Wijaya, Sp.KO, menegaskan bahwa proses pemulihan bukan sekadar tambahan, melainkan bagian integral dari program latihan. Setiap pemain wajib menjalani rutinitas recovery yang telah dirancang tim medis, mulai dari pemantauan fisik menggunakan GPS tracking, Rate of Perceived Exertion (RPE), hingga analisis kekuatan dengan teknologi VALD. Data-data ini digunakan untuk menyesuaikan beban latihan dan kebutuhan pemulihan secara personal, sehingga risiko kelelahan dan cedera bisa diminimalkan.
Sebelum kompetisi dimulai, seluruh pemain menjalani Pre-Competition Medical Assessment (PCMA) menyeluruh yang mencakup evaluasi laboratorium, pemeriksaan jantung, komposisi tubuh, fungsi ortopedi, pencitraan medis, uji VOâ‚‚ Max, hingga asesmen psikologis. Menurut dr. Reyner Valiant Tumbelaka, M.Ked.Klin., Sp.OT dari Mayapada Hospital Surabaya, cedera pada atlet sepak bola sering kali bukan akibat benturan, melainkan ketidakseimbangan kekuatan otot, keterbatasan gerak, atau pola gerak berulang yang tidak optimal. Dengan memetakan faktor-faktor ini, tim medis bisa mengantisipasi risiko sebelum terjadi.
Kolaborasi strategis dengan Mayapada Hospital melalui Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) menjadi tulang punggung pendekatan ini. SITPEC, yang didukung oleh sekitar 20 dokter spesialis dari bidang kedokteran olahraga, ortopedi, rehabilitasi medik, kardiologi, radiologi, gizi klinik, hingga psikologi, menyediakan layanan komprehensif mulai dari pencegahan cedera, pemulihan pasca-latihan, hingga peningkatan performa. Fasilitas seperti gym khusus, analisis VOâ‚‚ Max, dan Body Composition Analysis juga tersedia untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Pendekatan ilmiah ini tidak hanya berdampak pada tim profesional, tetapi juga menjadi model bagi masyarakat umum yang aktif berolahraga. Melalui integrasi dengan Orthopedic Center Mayapada Hospital, publik kini bisa mengakses layanan serupa untuk memahami kondisi fisik, mencegah cedera, dan memaksimalkan performa berdasarkan profil individu. Dengan sistem yang terukur, Persebaya membuktikan bahwa juara bukan hanya lahir dari latihan fisik, tapi dari kecermatan dalam memahami tubuh atlet—sebelum, selama, dan setelah pertandingan.














