Sumbawanews.com,- Sosok Tonny Soegiono, pelanggan yang kehilangan Rp1,2 miliar akibat pencurian oleh terapis spa di Surabaya, ternyata bukan sekadar warga biasa. Ia adalah seorang pengusaha lansia berusia di atas 60 tahun, yang kerap menjadi langganan tetap di tempat perawatan itu—hingga hubungan personal berkembang menjadi celah bagi kejahatan yang terencana.
Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, terdakwa Nur Hasannah Prasetya didakwa secara terpisah telah menguras rekening Tonny melalui 32 kali transfer tanpa sepengetahuan korban. Modusnya sederhana namun mematikan: saat Tonny menitipkan ponselnya selama sesi spa, Nur memanfaatkan momen itu untuk mengakses rekening bank korban lewat ATM, menggunakan PIN yang didapat dari kepercayaan berlebihan yang dibangun selama berbulan-bulan.
Jaksa Penuntut Umum Hasanudin Tandilolo mengungkapkan, seluruh uang hasil pencurian habis tak bersisa. Uang itu digunakan Nur untuk membeli emas, menginap lima kali di hotel mewah seperti Shangri-La Surabaya, serta menikmati gaya hidup mewah yang jauh dari gaji seorang terapis spa. Tak ada jejak uang yang disimpan atau diinvestasikan—semua habis untuk foya-foya.
Tonny baru menyadari kejadian ini pada 25 September 2024, saat ia secara tak sengaja mencetak mutasi rekening di sebuah cabang bank di Rungkut Industri. Dari laporan transaksi itu, ia terkejut menyadari bahwa tabungan puluhan tahunnya telah dikuras secara sistematis—tanpa ia sadari—selama berbulan-bulan.
Pengacara Nur, M. Zulfan Badru Naja, mengakui Tonny adalah pria yang berkecukupan, namun menolak memberi detail lebih lanjut tentang bisnis yang digelutinya. “Dia pengusaha, tapi kami tidak tahu persis bidangnya. Kantornya di mana, usahanya apa—semua tidak kami tanyakan,” ujar Zulfan, menggarisbawahi betapa rapuhnya kepercayaan yang dibangun di antara dua dunia yang sangat berbeda: seorang pengusaha tua yang mencari ketenangan, dan seorang perempuan muda yang memanfaatkan kerentanan itu.
Kasus ini bukan sekadar pencurian uang. Ia adalah kisah tentang kepercayaan yang disalahgunakan, tentang lansia yang rentan secara emosional, dan tentang bagaimana keintiman yang dibangun di ruang perawatan bisa berubah menjadi senjata mematikan. Persidangan masih berlangsung, dan hingga kini, Tonny belum bersuara secara publik—hanya diam, seperti banyak korban lain yang kehilangan lebih dari sekadar uang.

















