Sumbawanews.com,- Pada Minggu, 1 November 2026, 19 pembalap MotoGP menandatangani surat resmi kepada MotoGP Group, mendesak penyelenggara untuk bertanggung jawab penuh atas keamanan balapan di Sirkuit Lusail, Qatar, atau membatalkan balapan. Permintaan ini muncul menyusul ketidakpastian keamanan yang memicu perpecahan di antara pembalap, tim, dan pihak penyelenggara. Sehari setelahnya, Yamaha mengumumkan mundur dari MotoGP Qatar 2026 dengan alasan mengikuti rekomendasi perjalanan internal perusahaan, memicu ancaman sanksi olahraga dari MotoGP. Para pembalap juga diperingatkan akan menghadapi hukuman jika memboikot balapan.
Di tengah gelombang protes, tiga pembalap—Marco Bezzecchi, Ai Ogura, dan Johann Zarco—tidak ikut menandatangani surat tersebut, meski alasan pastinya belum diungkapkan. Menariknya, sembilan dari 19 pembalap yang menandatangani surat justru menyatakan tetap akan berangkat ke Qatar. Sorotan pun tertuju pada Jorge Martin, yang termasuk dalam daftar penandatangan, padahal ia tengah berjuang memangkas selisih 44 poin dari pemimpin klasemen dalam perburuan gelar juara dunia.
Dua sosok kunci, Marc dan Alex Marquez, memberikan respons berbeda. Alex Marquez, yang absen karena menjalani operasi bahu, mendukung keputusan mundur dari Qatar dan menyebut kehadiran Carlos Ezpeleta di lokasi sebagai indikator bahwa penyelenggara menjamin keamanan. Sementara Marc Marquez, yang berpeluang mengunci gelar juara dunia di Qatar, memilih bersikap hati-hati: “Ini bukan sesuatu yang berada di tangan kami, tetapi saya tidak ingin memberikan pendapat.”
Dengan dominasi Marc Marquez di musim lalu yang mengumpulkan 545 poin, semua pembalap kini kembali memulai dari nol, menjadikan MotoGP Qatar 2026 bukan hanya ujian keamanan, tapi juga awal dari perburuan gelar yang penuh tekanan.















