Sumbawanews.com,- Penelitian terbaru mengungkap bahwa ikan mengalami paparan mikroplastik paling intens selama masa pemijahan, memperbesar risiko gangguan reproduksi dan penurunan populasi. Studi yang dipimpin peneliti dari Nankai University dan Fujian Ocean Innovation Center menganalisis 6.327 data konsentrasi mikroplastik di air laut, 3.959 sampel mikroplastik dalam tubuh ikan, 528 data polutan kimia seperti PAH dan PFOS, serta informasi reproduksi 992 spesies ikan di 65 ekosistem laut global. Hasilnya menunjukkan sekitar 7,8 persen kawasan pemijahan penting telah melampaui ambang batas ekologis aman, dengan Laut Baltik dan Teluk Thailand mencatat konsentrasi mikroplastik lebih dari 7,8 kali lipat di atas rata-rata global.
Ikan yang sedang memijah terbukti membawa kadar mikroplastik lebih tinggi dibandingkan individu sejenis yang tidak sedang bereproduksi, dan hampir separuh ekosistem laut yang diteliti menunjukkan penyerapan mikroplastik ke tubuh ikan berlangsung lebih efisien selama periode ini. Faktor pendukung seperti suhu air yang meningkat dan penurunan kadar oksigen turut memperburuk dampak pencemaran, menciptakan sinergi berbahaya yang hanya terjadi saat musim kawin. Peneliti menekankan bahwa penilaian risiko lingkungan harus mempertimbangkan waktu paparan, bukan hanya konsentrasi polutan, karena spesies ikan yang terancam punah menghadapi ancaman gabungan jauh lebih tinggi dibanding spesies yang tidak tergolong rentan. Oleh karena itu, upaya konservasi laut perlu dirancang dengan memperhatikan siklus reproduksi ikan agar lebih efektif melindungi keberlanjutan populasi.















