Sumbawanews.com,- Tim peneliti dari Kelompok Riset Instrumentasi Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung mengembangkan alat bernama Coffee Passport yang mampu mengkuantifikasi identitas ilmiah kopi murni berdasarkan lima parameter teknis. Alat berbentuk seperti mesin kopi otomatis ini dirancang untuk mengukur karakteristik kimia dan fisik kopi tanpa bergantung pada penilaian indera manusia. Dalam uji coba, sampel kopi arabika asal Garut seberat 10 gram diseduh dengan air panas bersuhu 92 derajat Celsius, lalu dianalisis saat suhu turun ke rentang 85–90 derajat Celsius, di bawah 60 derajat Celsius, dan seterusnya. Sensor MQ-135 mendeteksi gas amonia dari aroma kopi, TCS3200 mengukur warna larutan, sementara pH, Electrical Conductivity (EC), dan Total Dissolved Solids (TDS) diukur untuk menentukan keasaman, kandungan mineral, serta kekentalan.
Hasil pengujian menunjukkan kopi Garut memiliki pH 4,1, TDS 678 mg/L, EC 1.405 mS/cm, warna medium roast, dan aroma winey saat suhu larutan turun dari 89 hingga 50 derajat Celsius. Pengukuran ini dilakukan berulang 10–20 kali untuk memastikan konsistensi. Alat ini merupakan bagian dari konsep Quantifiable Coffee Identity (QCI), yang tidak hanya mengandalkan sensor pada larutan kopi (Cup Lens), tetapi juga mempertimbangkan kondisi lahan (Soil Lens), karakteristik budidaya (Cultivation Lens), dan proses pascapanen (Post-Harvest Lens). Konsep ini merupakan kelanjutan dari proyek Smart Farming Coffee Garut tahun 2025 yang memanfaatkan sensor tenaga surya untuk memantau kebun kopi tanpa jaringan internet.
Menurut ketua tim, Selly Feranie, inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata petani yang kesulitan memperoleh harga lebih tinggi meski produksi meningkat, karena belum ada sistem identifikasi mutu objektif yang bisa dipahami konsumen. Penilaian kualitas kopi selama ini masih didominasi oleh persepsi subjektif melalui metode cupping test. Coffee Passport menawarkan solusi berbasis data: setiap jenis kopi memiliki “sidik jari digital” unik yang menjadi paspor ilmiah, memperkuat branding dan meningkatkan kepercayaan pasar. Tim peneliti terdiri atas Selly Feranie, E.P. Nugroho, Pupung Ismayadi, Judhistira Aria Utama, Dedi Sasmita, Hernawati, dan sejumlah mahasiswa dari program studi Fisika, Biologi, Pendidikan Ilmu Komputer UPI, serta Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia.















