Sumbawanews.com,- Pada 21 Juli 2026, Jepang mencatat hari pertama dengan suhu melebihi 40 derajat Celsius, yang resmi dikenal sebagai “kokushobi”—istilah baru yang diperkenalkan Badan Meteorologi Jepang pada April tahun ini untuk menggambarkan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Suhu mencapai 40 derajat Celsius di Gujo, Prefektur Gifu, dan 40,1 derajat Celsius di Toyota, Prefektur Aichi, menjadi rekor tertinggi di kedua stasiun pengamatan. Dari 914 stasiun cuaca di seluruh negeri, 278 melaporkan suhu di atas 35 derajat Celsius, kategori sebelumnya tertinggi yang disebut “moshobi”. Kematian akibat sengatan panas tercatat dua orang pada Senin, satu di Niigata dan satu lagi di Kanagawa, sementara lebih dari 100.000 orang dirawat di rumah sakit sejak Mei hingga September 2024 karena paparan panas ekstrem.
Peningkatan suhu telah mengubah pola kehidupan sehari-hari di Jepang. Petani mulai beralih ke varietas padi yang lebih tahan panas dan bahkan menanam komoditas baru seperti alpukat yang sebelumnya tidak dibudidayakan secara masif. Di bidang olahraga, turnamen bisbol Koshien yang biasa digelar di tengah terik Agustus kini dibagi menjadi sesi pagi dan malam sejak 2024 untuk mengurangi risiko kesehatan. Penelitian dari Institut Nasional Studi Lingkungan Jepang dan Universitas Waseda memperingatkan bahwa tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca secara drastis, kegiatan olahraga luar ruangan di sekolah tidak akan lagi layak dilakukan pada dekade 2060-an.
Suhu rata-rata musim panas di Jepang telah naik sekitar 1,3 derajat Celsius dalam seratus tahun terakhir. Musim panas 2023 dan 2024 masing-masing menjadi yang terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1898, sebelum rekor itu dipecahkan lagi pada 2025, ketika suhu rata-rata musim panas mencapai 2,4 derajat Celsius di atas rata-rata tiga dekade sebelumnya. Rekor suhu tertinggi nasional tetap berada di 41,8 derajat Celsius, yang tercatat di Isesaki, Prefektur Gunma, pada 5 Agustus 2025.















