Sumbawanews.com,- Inggris dan Argentina akan bertemu di semifinal Piala Dunia 2026 pada Kamis, 16 Juli 2026, dini hari pukul 02.00 WIB di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. Ini akan menjadi pertemuan pertama dalam karier internasional Lionel Messi melawan tim nasional Inggris, setelah selama ini ia tak pernah berhadapan langsung dengan The Three Lions. Laga ini menjadi momen historis, mengingat selama lebih dari tiga dekade, konflik politik antara kedua negara—terutama terkait isu Falkland—kerap menghalangi pertemuan langsung di ajang besar.
Argentina melaju ke semifinal setelah mengalahkan Swiss 3-1 lewat perpanjangan waktu, dengan gol dari Alexis Mac Allister, Julian Alvarez, dan Lautaro Martinez. Sementara Inggris menang 2-1 atas Norwegia dalam pertandingan 120 menit di babak perempat final. Kedua tim sama-sama belum pernah sampai ke adu penalti sejak fase knockout. Namun, skuad Inggris menghadapi tantangan kebugaran: Declan Rice dalam kondisi meragukan akibat sakit, Jordan Henderson absen karena cedera, dan Jarell Quansah masih menjalani skorsing satu laga setelah menerima kartu merah melawan Meksiko. Djed Spence diharapkan menjadi pengganti bek kanan, dengan Marc Guehi dan John Stones sebagai pasangan tengah.
Messi, yang kini berusia 39 tahun, menjadi pusat perhatian di tengah tekanan sejarah. Pertemuan ini mengingatkan pada duel legendaris 1986, ketika Argentina menang 2-1 atas Inggris lewat gol kontroversial “Tangan Tuhan” Diego Maradona. Kini, pelatih Inggris Thomas Tuchel menghadapi tantangan strategis untuk menghentikan Messi tanpa mengabaikan kekuatan lini serang Argentina yang dipimpin oleh Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez. Sementara itu, pelatih Argentina Lionel Scaloni menyambut laga ini sebagai tantangan terbesar sekaligus peluang emas untuk melangkah ke final.
Laga ini juga mendapat perhatian khusus dari pelatih Spanyol Luis de la Fuente, yang terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap Argentina, mengingat hubungan pribadinya dengan Scaloni. Di tengah sorotan global, pertandingan ini bukan hanya soal sepak bola—tapi juga simbol pertemuan dua dunia yang selama ini terpisah oleh sejarah, politik, dan legenda.















