Sumbawanews.com,- Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi gelombang perlawanan dari sejumlah asosiasi dan konfederasi sepak bola dunia setelah mengusulkan penjualan saham Piala Dunia kepada pihak swasta. Meski ia kemudian menarik kembali rencana itu, tekanan untuk menggantikannya justru semakin membesar. Masa jabatannya yang akan berakhir pada 17 Maret 2027 di Maroko bisa saja dipersingkat jika Dewan FIFA atau minimal 43 negara anggota meminta penyelenggaraan Kongres Luar Biasa (KLB).
Infantino, yang terpilih sebagai presiden FIFA pada 2019 dan 2023 sebagai calon tunggal, telah menjabat dua periode penuh. Ia sebelumnya memimpin FIFA sejak 2016 menggantikan Sepp Blatter dalam masa transisi, namun periode itu tidak dihitung sebagai masa jabatan resmi. Menurut aturan FIFA, seorang presiden boleh menjabat maksimal tiga periode berturut-turut. Jika ingin mencalonkan diri lagi pada 2027, ia harus mendapat dukungan dari lima anggota asosiasi nasional.
KLB hanya bisa digelar jika Dewan FIFA—yang terdiri dari 37 anggota—mengajukan permintaan tertulis, atau jika 20 persen dari 211 anggota FIFA (setara 43 negara) mengajukan permohonan serupa. Jika tidak ada KLB, pemilihan presiden baru akan dilangsungkan pada Kongres FIFA biasa pada Maret 2027. Dalam pemungutan suara, jika hanya ada dua kandidat, pemenang harus meraih mayoritas 50 persen dari 211 suara. Jika lebih dari dua calon, akan dilakukan putaran pemungutan suara hingga tersisa dua kandidat terakhir.
Infantino kini berada di persimpangan: apakah ia akan bertahan hingga akhir masa jabatannya, atau menjadi presiden FIFA pertama yang digulingkan sebelum waktunya?















