Sumbawanews.com,- Di tengah era kekuatan bulu tangkis dunia yang semakin merata, Indonesia kembali gagal meraih gelar juara dunia setelah puasa selama tujuh tahun sejak Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjuarai Kejuaraan Dunia 2019. Pada Kejuaraan Dunia BWF 2026 di New Delhi, India, Indonesia tak mengirimkan seorang pun wakil ke babak final, memperpanjang rentang terpanjang tanpa gelar sejak era 1983–1993. Dalam lima edisi Kejuaraan Dunia sejak 2022—dengan format tahunan kecuali tahun Olimpiade—Indonesia hanya mampu menyumbang satu medali perunggu lewat ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah yang tersingkir di semifinal.
Meski sempat mengirim lima wakil ke perempat final, kegagalan besar terjadi di fase kritis: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Jonatan Christie, Alwi Farhan, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari semuanya tumbang sebelum mencapai semifinal. Dari delapan unggulan teratas di Kejuaraan Dunia 2026, semua juara berasal dari kategori unggulan lima besar, menunjukkan tidak ada kejutan besar yang mengubah peta kekuatan. China tetap kokoh dengan rombongan pemain andalan yang saling menopang, sementara Korea dan Prancis membuktikan kualitas di balik jumlah terbatas—An Se Young, Baek Ha Na/Lee So Hee, dan pasangan Prancis Thom Gicquel/Delphine Delrue serta Alex Lanier menjadi bukti bahwa konsistensi dan kedalaman tim jauh lebih penting daripada sekadar kejutan.
Jonatan Christie, satu-satunya tunggal putra Indonesia yang masuk unggulan empat besar, gagal melangkah jauh, memperkuat gambaran bahwa Indonesia kini kekurangan pemain andalan yang bisa diandalkan di babak akhir. Amri/Nita, meski mencatatkan kejutan dengan tembus semifinal, tak mampu melanjutkan perjalanan ke final. Sementara itu, China meraih tiga gelar, Korea dua, dan Prancis dua—semua dari pemain yang sudah diakui sebagai kekuatan utama, bukan sekadar kejutan.
Dengan Olimpiade Paris 2024 tinggal dua tahun lagi, tekanan untuk memperbaiki struktur regenerasi dan mental bertanding semakin mendesak. PBSI tak bisa lagi mengandalkan krisis pemain andalan sebagai alasan. Pemain muda seperti Alwi Farhan, Putri Kusuma Wardani, Rachel/Febi, dan Ana/Trias harus segera bertransformasi dari harapan kejutan menjadi tulang punggung tim nasional. Latihan maksimal di pelatnas harus tercermin di lapangan, bukan hanya dalam bentuk performa sesekali, tapi konsistensi di setiap laga penting.
Kekuatan bulu tangkis dunia memang semakin merata. Tapi bagi Indonesia, itu bukan alasan untuk terus menderita—melainkan tantangan untuk bangkit dari dalam.















