Home Berita Internasional Ilmuwan China Temukan Fenomena ‘Cerobong Energi’ di Dasar Samudra

Ilmuwan China Temukan Fenomena ‘Cerobong Energi’ di Dasar Samudra

Sumbawanews.com,- Ilmuwan China menemukan fenomena alam bernama “cerobong inersia” di Samudra Pasifik Utara yang mampu mentransmisikan energi gelombang internal dari permukaan hingga kedalaman ribuan meter, membuka potensi baru dalam pemodelan akustik bawah laut. Fenomena ini, yang terbentuk akibat interaksi antara pusaran laut antisiklon dan stratifikasi kepadatan air, memungkinkan energi dari angin permukaan merambat ke lapisan dalam samudra tanpa sepenuhnya melemah. Penelitian yang dipimpin Mu Yurong dan dipublikasikan dalam jurnal *Deep Sea Research Part I* pada Desember 2026, didasarkan pada data dari 46 stasiun pemantauan di kawasan Kuroshio Extension, timur Jepang, yang dioperasikan antara April 2004 dan Juni 2006. Meski belum menghasilkan teknologi sonar militer baru, temuan ini memberikan dasar ilmiah yang dapat meningkatkan akurasi deteksi objek bawah laut di masa depan.

Cerobong inersia bukan struktur fisik, melainkan jalur perambatan energi yang dipengaruhi oleh rotasi Bumi dan pola arus laut. Pusaran antisiklon di belahan bumi utara—yang berputar searah jarum jam—berperan penting dalam memusatkan dan mempercepat aliran energi gelombang internal ke dasar laut. Sebaliknya, pusaran siklon yang berputar berlawanan arah cenderung menghambat pergerakan energi tersebut. Kekuatan stratifikasi lapisan air juga menentukan seberapa jauh energi dapat menembus ke kedalaman; semakin kuat stratifikasi, semakin banyak energi yang terperangkap di lapisan atas.

Penelitian ini menggunakan data dari program Kuroshio Extension System Study (KESS), yang didanai National Science Foundation Amerika Serikat. Para ilmuwan dari Institute of Oceanology, Chinese Academy of Sciences, menemukan bahwa perubahan kondisi atmosfer di permukaan dapat secara langsung memengaruhi dinamika energi di lapisan laut paling dalam. Temuan ini mengungkap hubungan kompleks antara angin, arus, dan struktur termal laut yang selama ini belum sepenuhnya dipahami.

Meskipun ada spekulasi tentang implikasi militer terhadap deteksi kapal selam siluman, peneliti menegaskan bahwa aplikasi praktis untuk keperluan pertahanan masih memerlukan pengembangan dan pengujian lebih lanjut. Fokus utama penelitian ini adalah memperdalam pemahaman ilmiah tentang transportasi energi di lautan, bukan menciptakan senjata baru.

Previous articleKBRI Nairobi Dorong Pemuda Asia-Afrika Bangun Inovasi Bersama
Next articleJakarta Barat Masih Rawan Banjir, Pemprov DKI Bangun Embung Baru