Sumbawanews.com,- Sanaya — Kelompok Houthi di Yaman secara resmi memperluas konflik regional dengan menutup seluruh akses pelayaran Israel di Laut Merah dan melancarkan serangan rudal ke Tel Aviv. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin (8/6), Juru Bicara Angkatan Bersenjata Houthi, Brigjen Yahya Saree, mengumumkan larangan total terhadap semua kapal yang terkait dengan Israel, menyatakan bahwa setiap pergerakan semacam itu akan dianggap sebagai target militer sah.
Langkah ini, menurut Saree, merupakan respons langsung terhadap serangan beruntun Israel terhadap Lebanon, Iran, dan Jalur Gaza, sekaligus bagian dari upaya membalas “agresi koalisi Amerika Serikat dan Israel” terhadap poros perlawanan yang mencakup Yaman, Iran, Hezbollah, Irak, dan Palestina. “Operasi tersebut berhasil mencapai targetnya secara tepat,” ujar Saree, seperti dilansir Almayadeen, menegaskan bahwa rudal-rudal yang diluncurkan menghantam lokasi strategis di ibu kota Israel.
Pernyataan militer Houthi juga menekankan bahwa penutupan Laut Merah bukan sekadar taktik militer, melainkan respons terhadap blokade yang mereka anggap telah memperparah penderitaan rakyat Yaman dan warga Palestina di Gaza. “Setiap upaya musuh untuk mengisolasi kami akan gagal. Operasi militer kami akan terus ditingkatkan selama serangan dan blokade masih berlangsung,” tegas Saree.
Pengumuman ini muncul tak lama setelah Israel melancarkan serangan udara ke kawasan Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, yang memperdalam ketegangan di Timur Tengah. Sebagai respons, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan telah meluncurkan serangkaian rudal balistik ke wilayah Israel, menandai eskalasi beruntun yang mengancam mengubah konflik lokal menjadi perang regional yang lebih luas.
Sebelumnya, Houthi telah beberapa kali mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Arab. Kini, ancaman itu berubah menjadi tindakan nyata. Penutupan akses maritim di Laut Merah berpotensi mengganggu rute perdagangan global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada jalur ini untuk impor energi dan barang, termasuk Indonesia.
Pemerintah Indonesia, meski tetap menyerukan gencatan senjata, diperkirakan akan memantau perkembangan ini dengan ketat, mengingat sekitar 40 persen perdagangan maritim nasional melewati kawasan tersebut. Analis keamanan memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, biaya logistik global bisa melonjak, memicu inflasi dan ketidakstabilan ekonomi di berbagai belahan dunia.
Dengan langkah ini, Houthi tidak lagi hanya menjadi aktor lokal, tetapi telah bertransformasi menjadi kekuatan militer yang mampu memengaruhi peta keamanan maritim global — dan menempatkan Laut Merah sebagai front utama dalam perang yang kini semakin tak terkendali.

















